sumutpos.jawapos.com - Curhatan seorang pedagang es di Cirebon mendadak viral di media sosial. Ia mengungkapkan dilema yang dihadapinya setelah terpaksa menaikkan harga dagangan akibat melonjaknya harga plastik sebagai bahan kemasan.
Melansir Instagram @lambegosiip, Minggu (5/4/2026), pedagang bernama Aeni itu mengaku awalnya hanya mencoba menyesuaikan harga demi menutup biaya produksi yang semakin tinggi. Harga minuman es yang biasanya Rp5.000 per cup sempat ia naikkan menjadi Rp6.000. Namun, keputusan tersebut justru menuai protes dari pelanggan.
“Baru dinaikkan, pembeli langsung komplain. Tidak mau beli kalau harganya naik,” ungkapnya dalam curhatan yang beredar luas.
Tak butuh waktu lama, Aeni akhirnya menurunkan kembali harga jual ke angka semula. Ia mengaku tak punya banyak pilihan karena jika dipaksakan, dagangannya justru sepi pembeli.
Baca Juga: Lawan Mata Lelah dengan Mengonsumsi Buah; dari Pepaya hingga Mangga
Fenomena ini langsung memicu beragam reaksi netizen. Banyak yang bersimpati terhadap kondisi pedagang kecil yang terjepit di tengah kenaikan harga bahan baku, namun ada juga yang memahami posisi pembeli.
Sebagian netizen menilai pedagang berada dalam posisi sulit. Harga plastik yang naik membuat biaya operasional ikut melonjak, sementara daya beli masyarakat belum tentu ikut meningkat.
Di sisi lain, ada pula yang berpendapat kenaikan harga, meski kecil, tetap berdampak bagi konsumen yang terbiasa dengan harga lama. Terlebih untuk jajanan kaki lima yang sensitif terhadap perubahan harga.
Baca Juga: Usai Diprotes, Billboard Film “Aku Harus Mati” Ditertibkan Pemprov DKI, Tuai Ragam Reaksi Netizen
Situasi ini menjadi gambaran nyata bagaimana gejolak harga global bisa berdampak hingga ke level usaha kecil. Pedagang seperti Aeni harus menyeimbangkan antara bertahan secara ekonomi dan menjaga pelanggan tetap setia.
Di tengah situasi ini, banyak pihak berharap ada solusi dari pemerintah, baik melalui stabilisasi harga bahan baku maupun alternatif kemasan yang lebih terjangkau, agar pelaku usaha kecil tidak terus berada dalam tekanan.(lin)
Editor : Redaksi