Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Kembali ke Masa Lalu: Tren ‘Tin Can’, Telepon Jadul yang Digandrungi Anak Sekolah AS

Redaksi • Selasa, 5 Mei 2026 | 19:46 WIB
Telepon sederhana tanpa layar bernama Tin Can viral di AS. (Instagram @cretivox)
Telepon sederhana tanpa layar bernama Tin Can viral di AS. (Instagram @cretivox)

 

sumutpos.jawapos.com - Fenomena tak biasa muncul di tengah derasnya arus digital. Saat sebagian besar anak tumbuh dengan layar sentuh dan media sosial, sekelompok pelajar di Amerika Serikat justru memilih “mundur”, menggunakan telepon sederhana tanpa layar yang disebut Tin Can phone.

Melansir Instagram @cretivox, Selasa (5/5/2026), perangkat ini sekilas mengingatkan pada telepon rumah era lama. Namun di balik tampilannya yang minimalis, ada gelombang perubahan gaya hidup yang lebih besar: keinginan lepas dari kecanduan layar.

Tin Can phone bukan sekadar gimmick nostalgia. Perangkat ini memang dirancang tanpa layar, tanpa aplikasi, tanpa game, bahkan tanpa fitur pesan teks. Fungsinya hanya satu: menelepon.

Meski sederhana, teknologi di dalamnya tetap modern. Perangkat ini menggunakan koneksi Wi-Fi untuk melakukan panggilan, sehingga tetap relevan di era internet. Diluncurkan pada April 2025 dengan harga sekitar USD 100, popularitasnya melonjak cepat hingga terjual ratusan ribu unit dalam waktu singkat.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Sumbagut Resmikan SPBU Nelayan 18.237.014 di Aceh Selatan, Permudah Akses BBM bagi Nelayan

Di sekolah-sekolah tertentu di AS, perangkat ini mulai terlihat menggantikan smartphone di tangan siswa. Bukan karena keterpaksaan, tetapi pilihan sadar.

Di balik tren ini, ada kegelisahan yang cukup dalam dari orang tua dan pendidik. Smartphone dinilai membawa terlalu banyak distraksi, dari media sosial hingga game yang berdampak pada fokus belajar dan kesehatan mental anak.

Telepon seperti Tin Can phone menawarkan kompromi: anak tetap bisa berkomunikasi, tetapi tanpa paparan konten digital berlebih.

Bagi orang tua, ini menjadi solusi praktis untuk mengurangi kecanduan layar, membatasi akses ke internet bebas, dan tetap menjaga komunikasi dengan anak.

Sementara bagi anak-anak, perangkat ini justru menghadirkan pengalaman baru, berkomunikasi secara lebih sederhana, tanpa notifikasi yang terus-menerus berbunyi.

Baca Juga: Sektor Pertanian Sumbang 12,67% PDB, Tetap Menjadi Penopang Ekonomi  Indonesia Kuartal I Tahun 2026

Menariknya, tren ini bukan hanya soal fungsi, tetapi juga identitas. Menggunakan perangkat “jadul” kini menjadi semacam simbol gaya hidup, mirip seperti tren kamera analog atau pemutar kaset yang kembali diminati generasi muda.

Fenomena ini memperlihatkan ironi zaman: di tengah teknologi yang semakin canggih, justru kesederhanaan menjadi barang langka yang dicari.

Di media sosial, tren ini langsung memantik beragam reaksi. Banyak netizen mendukung langkah tersebut sebagai solusi cerdas di tengah kecanduan gadget.

“Akhirnya ada juga teknologi yang bikin anak fokus lagi ke dunia nyata,” tulis seorang pengguna.

Baca Juga: Sektor Pertanian Sumbang 12,67% PDB, Tetap Menjadi Penopang Ekonomi  Indonesia Kuartal I Tahun 2026

Komentar lain menyebut, “Kalau dari dulu begini, mungkin kita nggak kecanduan scrolling sampai tengah malam.”

Namun, tak sedikit pula yang menyindir tren ini sebagai langkah mundur.

“Udah bayar mahal-mahal cuma buat nelpon? Balik ke tahun 90-an dong,” tulis netizen lain.

Ada juga yang menilai tren ini hanya akan populer sementara. “Ini cuma tren sesaat. Nanti juga balik lagi ke smartphone,” komentar lainnya.

Di sisi lain, sebagian netizen Indonesia ikut membandingkan dengan kondisi dalam negeri.

“Di Indonesia malah anak SD sudah pegang HP canggih. Mungkin ini bisa jadi pelajaran,” tulis salah satu komentar.

Baca Juga: Berangkat Demi Nafkah, Berakhir Duka: Kisah Pahit Pekerja Migran Ilegal di Kamboja

Belum ada kepastian apakah tren ini akan bertahan lama. Namun satu hal jelas, kemunculan Tin Can phone membuka diskusi baru tentang bagaimana teknologi seharusnya digunakan oleh anak-anak.

Apakah masa depan komunikasi akan tetap didominasi layar? Atau justru akan ada ruang bagi perangkat sederhana yang lebih manusiawi?(lin)

Editor : Redaksi
#Tin Can #Tren Anak Muda #Digital Detox #teknologi #gadget