sumutpos.jawaos.com – Tidak banyak anak muda yang bercita-cita menjadi pemimpin lingkungan sejak usia belia. Namun bagi Raden Raka, ketertarikan mengelola masyarakat justru tumbuh dari kebiasaan yang tak biasa: bermain game membangun kota.
Melansir Instagram @pandemictalks, Rabu (10/6/2026), di usia 22 tahun, Raka dipercaya memimpin RW 03 Kelurahan Padasuka, Kota Cimahi, Jawa Barat. Jabatan tersebut menjadikannya salah satu ketua RW termuda di kota tersebut.
Siapa sangka, ketertarikannya pada tata kelola masyarakat berawal dari permainan simulasi pembangunan kota seperti SimCity hingga Manor Lords yang sering dimainkannya sejak kecil.
"Dari game itu saya belajar bahwa mengelola kota dan masyarakat itu kompleks. Ada banyak masalah yang harus diselesaikan dengan berbagai pendekatan. Dari situ saya penasaran, apakah cara berpikir itu bisa diterapkan langsung di masyarakat," ujarnya.
Ketertarikan tersebut tidak berhenti sebatas hobi. Raka mulai aktif memperhatikan berbagai persoalan lingkungan di sekitarnya dan memikirkan solusi yang bisa diterapkan secara nyata.
Pengalaman bermain game yang menuntut kemampuan mengatur sumber daya, menyusun strategi, dan menyelesaikan masalah perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan bermasyarakat.
Saat memutuskan maju dalam pemilihan Ketua RW, Raka sempat menghadapi keraguan dari sebagian warga. Faktor usia menjadi tantangan tersendiri karena banyak yang menganggap pengalaman menjadi syarat utama untuk memimpin lingkungan.
Namun keraguan itu tidak membuatnya mundur. Mahasiswa semester sembilan yang juga menjalankan usaha sendiri tersebut memilih membuktikan kemampuannya melalui gagasan dan program kerja yang ditawarkan kepada warga.
Upayanya berbuah manis. Dalam pemilihan, Raka berhasil meraih sekitar 65 persen suara dan memenangkan kepercayaan masyarakat untuk memimpin RW 03.
Setelah terpilih, salah satu persoalan yang langsung menjadi fokus perhatiannya adalah masalah banjir yang telah menghantui wilayahnya selama lebih dari 20 tahun. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa terus dianggap sebagai masalah tahunan tanpa solusi jangka panjang.
Raka kemudian mengangkat kondisi tersebut melalui berbagai konten di media sosial. Langkah itu ternyata membuahkan hasil. Kontennya menjadi viral dan berhasil menarik perhatian pemerintah daerah, termasuk Wali Kota Cimahi.
Baginya, media sosial bukan sekadar sarana berbagi informasi, tetapi juga alat untuk mempercepat penyampaian aspirasi masyarakat kepada para pengambil kebijakan.
Di balik keberhasilannya memenangkan pemilihan, ada cerita lain yang menarik perhatian. Seluruh biaya kampanye yang mencapai sekitar Rp30 juta ditanggung menggunakan dana pribadi.
Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan insentif yang diterima seorang ketua RW. Namun bagi Raka, langkah tersebut bukan soal mencari keuntungan finansial.
"Kalau dibandingkan dengan gaji RW yang Rp500 ribu per bulan, itu mungkin puluhan tahun balik modalnya. Jadi ini memang soal keikhlasan dan tanggung jawab," katanya.
Bagi Raka, menjadi ketua RW adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus kesempatan untuk membuktikan bahwa anak muda juga mampu mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan lingkungan.
Kisahnya menjadi contoh bahwa kepemimpinan tidak selalu ditentukan oleh usia. Dengan ide, keberanian, dan kemauan untuk bekerja, generasi muda pun dapat menjadi motor perubahan di tengah masyarakat.(lin)
Editor : Redaksi