sumutpos.jawapos.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan habitat orang utan Kalimantan. Ribuan titik panas terdeteksi berada di kawasan yang menjadi rumah bagi satwa dilindungi tersebut.
Melansir Instagram @cretivox, Kamis (10/9/2026), berdasarkan analisis Geopix, sepanjang periode 1 Juni hingga 28 Agustus 2026 tercatat sebanyak 17.865 dari total 22.744 titik panas di Kalimantan berada di wilayah habitat orang utan.
Kondisi tersebut menunjukkan luasnya dampak kebakaran terhadap ekosistem hutan yang menjadi tempat hidup salah satu primata endemik Indonesia itu. Geopix mencatat sekitar 25,8 juta hektare atau 60,2 persen dari total habitat orang utan Kalimantan terdampak kebakaran.
Baca Juga: Grab dan OVO Finansial Bekali 1.400 Mitra GrabMerchant di 10 Kota
Dampak paling besar terjadi pada habitat subspesies Pongo pygmaeus wurmbii. Jumlah titik panas di wilayah habitatnya mengalami peningkatan tajam, dari 1.123 titik pada Juli menjadi 13.085 titik pada Agustus 2026.
Kebakaran yang meluas tidak hanya mengancam keberadaan orang utan secara langsung, tetapi juga berpotensi merusak berbagai unsur penting dalam ekosistem mereka. Hilangnya sumber pakan, berkurangnya pohon tempat bersarang, serta terputusnya konektivitas antarwilayah habitat menjadi risiko yang semakin besar.
Orang utan Kalimantan memiliki ketergantungan tinggi terhadap kawasan hutan karena sebagian besar aktivitas hidupnya berlangsung di pepohonan. Ketika hutan terbakar, satwa tersebut dapat kehilangan tempat mencari makan dan ruang jelajah.
Baca Juga: Kabur Lewat Atap Rumah, Dua Pengedar Sabu di Polonia Diciduk Polisi
Geopix menyebut sejumlah kawasan berada dalam kondisi paling kritis, di antaranya Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit. Wilayah-wilayah tersebut dinilai membutuhkan respons cepat untuk mencegah kerusakan habitat yang lebih luas.
Karhutla di Kalimantan selama ini menjadi persoalan berulang, terutama saat musim kemarau ketika kondisi lahan mengering dan api mudah menyebar. Selain berdampak pada lingkungan, kebakaran juga mengancam keberlangsungan satwa liar yang bergantung pada hutan.
Upaya penanganan darurat, pemantauan titik panas, hingga perlindungan kawasan konservasi menjadi langkah penting untuk menjaga habitat orang utan tetap bertahan di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan aktivitas manusia.(lin)
Editor : Redaksi