Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Tiga Pekan Pasca Bencana di Tapsel, Derita Warga Belum Berakhir

Johan Panjaitan • Senin, 15 Desember 2025 | 07:34 WIB
Kondisi terakhir pasca banjir dan longsor yang terjadi di Tapsel. masyarakat yang terdampak masih membutuhkan bantuan dan pemulihan dari pemerintah daerah dan pusat. (SUBANTA RAMPANG AYU/SUMUT POS)
Kondisi terakhir pasca banjir dan longsor yang terjadi di Tapsel. masyarakat yang terdampak masih membutuhkan bantuan dan pemulihan dari pemerintah daerah dan pusat. (SUBANTA RAMPANG AYU/SUMUT POS)

TAPSEL, Sumutpos.jawapos.com– Tiga minggu setelah bencana banjir, longsor, dan tanah bergerak melanda Kabupaten Tapanuli Selatan pada 25 November 2025, berbagai persoalan krusial masih membayangi proses pemulihan. Hingga Minggu (14/12/2025), pemerintah daerah dihadapkan pada pekerjaan rumah besar agar kehadiran negara benar-benar dirasakan warga terdampak, terutama pada fase pascabencana.

Berdasarkan data dan konfirmasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapsel, hingga kini 30 warga masih dinyatakan hilang. Rinciannya, 27 orang merupakan warga Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, korban banjir bandang. Satu orang korban longsor di Desa Pengkolan, Kecamatan Sipirok, serta dua orang warga Kampung Durian, Batu Godang, Kecamatan Angkola Sangkunur.

Kepala Pelaksana BPBD Tapsel, Julkarnaen Siregar, mengakui proses pencarian menghadapi kendala berat. Tebalnya material pasir, kayu, dan lumpur menyulitkan tim di lapangan.

“Kami kewalahan karena material sangat tebal. Namun upaya pencarian tetap dilakukan semaksimal mungkin dengan melibatkan relawan, Tim SAR, alat berat, serta pencarian manual menggunakan cangkul,” ujar Julkarnaen kepada Sumutpos.jawapos.com, Jumat (12/12/2025).

Ribuan Warga Bertahan di Pengungsian

Selain pencarian korban, persoalan pengungsian juga belum terselesaikan. Tercatat 6.971 jiwa masih bertahan di lokasi pengungsian yang tersebar di 28 titik di tujuh kecamatan. Sebagian besar pengungsi menempati rumah ibadah, sekolah, dan rumah warga.

Wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar berada di Kecamatan Batangtoru, Angkola Selatan, dan Angkola Sangkunur. Mereka enggan kembali ke permukiman lama karena kondisi lingkungan yang dinilai sudah tidak aman.

“Kampung kami sudah retak-retak. Seluruh warga takut kembali karena rawan longsor,” kata Ranto Panjang Sipahutar, Kepala Desa Tandihat, Kamis (12/12/2025).

Harapan relokasi pun semakin menguat. Warga meminta pemerintah menyediakan lahan dan hunian tetap.
“Sampai kapan kami harus hidup di pengungsian seperti ini?” ujar Siti, warga Desa Garoga yang rumahnya hanyut diterjang banjir bandang.

Ribuan Hektare Sawah Gagal Panen

Dampak bencana juga menghantam sektor pangan. Sebanyak 1.352 hektare sawah dilaporkan mengalami puso atau gagal panen akibat banjir, sementara 325 hektare lainnya masih terendam.

Kepala Dinas Pertanian Tapsel, Taufiq Batubara, menyebut pendataan masih terus dilakukan sesuai arahan Kementerian Pertanian.

“Luasan sawah terdampak masih bergerak. Fokus kami saat ini memetakan kerusakan sebagai dasar penanganan dan bantuan,” ujarnya, Sabtu (12/12/2025).

Tak hanya pertanian, sektor perikanan rakyat juga terpukul. Sekitar 6,8 hektare kolam ikan warga rusak akibat banjir dan longsor.

“Kami masih dalam tahap pemetaan kerusakan. Padahal pembangunan 1.000 kolam ikan merupakan program prioritas Bupati,” ungkap Saipul Nasution, Kepala Dinas Perikanan Tapsel, Sabtu (13/12/2025).

Tiga pekan pascabencana, pencarian korban, relokasi warga, serta pemulihan ekonomi dan pangan masih menjadi tantangan utama. Warga berharap langkah konkret dan terukur segera dilakukan agar masa depan mereka tidak terus terkatung-katung di tengah ketidakpastian.(mag-10/han)

Editor : Johan Panjaitan
#tapanuli selatan #Longsor Aceh Sumut Sumbar #pascabencana #pemerintah daerah #banjir 2 meter #pemulihan