Sumutpos.jawapos.com– Pernah merasa baru beberapa jam memulai aktivitas, tetapi tubuh dan pikiran sudah terasa lelah? Padahal pekerjaan belum banyak, bahkan malam sebelumnya Anda sudah tidur cukup.
Jika kondisi ini sering terjadi, penyebabnya mungkin bukan kurang tidur. Para ahli menilai kelelahan kronis justru lebih sering dipicu oleh beban mental yang bekerja secara diam-diam dibanding aktivitas fisik.
Tubuh memang bisa beristirahat saat tidur, tetapi otak belum tentu benar-benar berhenti bekerja. Ketika sistem saraf terus berada dalam kondisi siaga, energi akan terkuras bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.
Otak Terus Siaga, Energi Terkuras Tanpa Disadari
Kelelahan fisik mudah dipahami. Setelah berolahraga atau melakukan pekerjaan berat, tubuh membutuhkan waktu untuk memulihkan diri.
Baca Juga: Pemkab Batu Bara Raih Juara II Paviliun Terbaik PRSU ke-50, Bukti Promosi Daerah Kian Kompetitif
Namun kelelahan mental berbeda. Kondisi ini muncul ketika otak terus memproses kekhawatiran, ketidakpastian, atau berbagai rangsangan yang datang tanpa henti.
Otak tidak membedakan apakah stres berasal dari pekerjaan berat atau sekadar kecemasan akibat membaca berita sepanjang hari. Selama tubuh merasakan tekanan, sistem saraf akan tetap aktif, otot cenderung tegang, dan energi terus terkuras.
Akibatnya, seseorang bisa merasa kehabisan tenaga meski hanya duduk di depan komputer atau bersantai di rumah.
Dilansir dari RBC.Ukraina, ada empat penyebab tersembunyi yang menguras energi :
1. Ketidakpastian yang Tak Pernah Berakhir
Ketika menghadapi persoalan pekerjaan, hubungan, atau kondisi ekonomi yang belum jelas ujungnya, otak secara otomatis menyusun berbagai kemungkinan.
Baca Juga: Rahasia Energi Stabil Seharian, Cukup Ubah 6 Kebiasaan Makan Ini
Tanpa disadari, proses ini berlangsung terus-menerus di belakang layar dan menghabiskan banyak energi mental.
2. Kebisingan Digital yang Tidak Ada Hentinya
Notifikasi ponsel mungkin terlihat sepele, tetapi setiap bunyi pesan memecah fokus.
Penelitian menunjukkan seseorang membutuhkan lebih dari 20 menit untuk kembali berkonsentrasi penuh setelah terdistraksi. Jika notifikasi terus berdatangan sepanjang hari, otak dipaksa berulang kali memulai kembali proses berpikir sehingga lebih cepat lelah.
3. Terlalu Banyak Keputusan Kecil
Memilih menu sarapan, menentukan rute perjalanan, membalas pesan rekan kerja, hingga memutuskan apakah perlu membuka berita terbaru merupakan keputusan-keputusan kecil yang tampak sederhana.
Namun akumulasi ratusan keputusan setiap hari membuat kemampuan otak untuk berkonsentrasi semakin menurun. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan akibat terlalu banyak mengambil keputusan.
4. Selalu Siap Dihubungi
Budaya selalu online membuat banyak orang sulit benar-benar beristirahat.
Baca Juga: Jangan Asal Pakai Sunscreen! Ini 5 Kesalahan yang Membuat Kulit Tetap Rusak
Ketika merasa harus segera membalas pesan kantor, grup keluarga, atau media sosial kapan pun, sistem saraf tidak pernah memperoleh kesempatan untuk benar-benar rileks. Tubuh memang diam, tetapi pikiran tetap bekerja tanpa jeda.
Mengapa Kelelahan Kronis Sulit Disadari?
Berbeda dengan kelelahan setelah aktivitas berat, kelelahan kronis berkembang secara perlahan sehingga sering dianggap sebagai hal yang normal.
Lama-kelamaan seseorang mulai kehilangan semangat berpikir, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, hingga menjaga jarak secara emosional dari orang-orang terdekat.
Banyak orang mengira kondisi tersebut hanya akibat suasana hati yang buruk atau tekanan pekerjaan sesaat. Padahal, itu bisa menjadi tanda tubuh dan pikiran telah mengalami kelebihan beban dalam waktu lama.
Saatnya Memberi Ruang untuk Otak Beristirahat
Kebiasaan memantau berita tanpa henti, selalu mengecek notifikasi, dan merasa harus mengetahui segala hal sering dianggap sebagai bentuk tanggung jawab.
Padahal, kebiasaan tersebut justru menjadi salah satu jalan tercepat menuju kelelahan mental dan burnout.
Memberikan jeda bagi diri sendiri bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Menonaktifkan notifikasi selama beberapa jam, membatasi konsumsi berita, atau menyediakan waktu tanpa gawai dapat membantu sistem saraf kembali tenang. (net/han)
Editor : Johan Panjaitan