Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

UMSU Kukuhkan Guru Besar Studi Islam: Menteri Soroti Krisis Kebenaran di Era Digital

Johan Panjaitan • Selasa, 17 Februari 2026 | 10:45 WIB
MENTERI DIKDASMEN: Prof. Dr. Abdul Mu
MENTERI DIKDASMEN: Prof. Dr. Abdul Mu


Sumutpos.jawapos.com-Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) sekaligus Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed menyampaikan tahniah atas pengukuhan Guru Besar Bidang Studi Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A, Senin (16/2).

Hadir dalam acara pengukuhan guru besar di Auditorium UMSU ini Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah Didik Suhardi, Ph.D, Wakil Bendahara Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah Muhammad Sofyan, M.T., Koornas Program MBM PP Muhammadiyah Dr. M. Nurul Yamin.

Turut hadir Sekretaris PW Muhammadiyah Sumut Irwan Syahputra, MA, Ketua PWA Sumut Dr. Nur Rahmah Amini, M.Ag, Anggota DPRD Kota Medan Edi Saputra, ST, kepala UPT Kementerian Dikdasmen, Koordinator Kopertais Wilayah IX, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut dan Medan, pimpinan perguruan tinggi, tokoh lintas iman, 27 PDM/PDA se-Sumut dan undangan lainnya.

Menteri Dikdasmen Prof. Abdul Mu’ti, M.Ed menyoroti krisis kebenaran di era digital.
"Kebenaran itu tidak punya harapan, tidak punya masa lalu. Tapi kita tidak boleh putus asa dalam mencari kebenaran," kata menteri mengutip Buku The Future of Truth.

Dalam sambutan sekaligus memberi pesan dan refleksi tantangan era post-truth dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), menteri mengatakan bahwa buku karya Werner Herzog ini menarik karena berisikan tentang dunia yang semakin kesulitan menentukan, mana fakta yang pabrikasi, mana yang hak dan mana yang hoax.

Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed juga menyoroti kecerdasan yang lahir dari teknologi atau artificial inteligent yang merupakan kelanjutan dari kehadiran komputer. AI telah merubah tata kehiduapan manusia sehingga semakin tidak percaya kepada Tuhan.

"Di era ini, agama selalu menghadapi tantangan salah satunya atheisme. Kemajuan teknologi membuat manusia merasa dirinya berkuasa. Padahal itu kehendak Tuhan," kata menteri.

Diera post-truth, lanjut Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed, kebenaran tidak lagi ditentukan oleh ilmu atau hukum, melainkan oleh popularitas dan viralitas. "Viralitas sendiri bisa dikerjakan oleh robot," tegasnya.

Sekretaris PP Muhammadiyah mengingatkan bahwa perkembangan teknologi membuat manusia semakin tidak percaya kepada Tuhan dan mengalami kesepian serta kekosongan makna. "Disinilah kehadiran tokoh agama dan cendekiawan tetap diperlukan karena AI tidak bisa membangun mana yang benar dan mana yang salah," ujarnya.

Menteri menambahkan kehadiran sosok ulul albab dan ulul abshar mampu memandu masyarakat dengan ilmu dan wawasan. Di era saat ini, Profesor bukan sekadar pangkat akademik, namun harus memiliki tiga keteladanan yaitu intelektual, agent of change peradaban dan agent of change spiritual.

Sebelumnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si melalui tayangan video menyampaikan pesan mendalam kepada guru besar yang dikukuhkan. "Saya yakin bagi semua dosen ketika memperoleh gelar doktor dan kepangkatan itu merupakan capaian tertinggi dengan susah payah. Proses ini menunjukkan perjalanan akademik yang tidak formalitas, tapi perjuangan keilmuan sebagai insan muslim dan kader Muhammadiyah. Jadikan ini proses awal perjalanan ilmu, bukan akhir," ujarnya.

Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si juga mengingatkan agar kehadiran guru besar tidak sekadar menjadi simbol akademik. "Jangan sampai kehadiran guru besar memperbanyak menara gading di PTMA. Diharapkan juga memberikan dampak yang signifikan di UMSU dan PTMA," tegasnya.

Rektor UMSU Prof. Dr. Agussani, M.AP menyampaikan bahwa pengukuhan ini merupakan yang kedua di tahun 2026. Tahun ini UMSU menargetkan tujuh guru besar baru dan secara keseluruhan terdapat 34 guru besar yang sedang berproses.

“Proses hari ini yang kedua di tahun ini. Kami berharap apa yang disampaikan dalam pidato pengukuhan ini menjadi bagian tidak terpisahkan dalam menjaga kualitas universitas,” katanya.

UMSU juga terus mengembangkan program studi, termasuk peningkatan D3 Perpajakan menjadi S1 Perpajakan serta akselerasi pendirian program spesialis bedah, paru dan respirasi di fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan.

Selain itu, lanjut rektor, tengah diupayakan pembukaan program spesialis anak, penyakit dalam dan neurologi, serta pengembangan program studi non-kedokteran seperti psikologi, hubungan internasional, bisnis digital hingga rekayasa keamanan siber.

"Capaian hari ini tidak terlepas dari semua pihak. Yang paling menarik, proses pengusulan Guru Besar Prof. Qorib ini luar biasa cepat, Oktober 2025 diajukan dan langsung disetujui untuk diproses," jelasnya.

Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A yang juga bendahara PW Muhammadiyah Sumut menyampaikan pidato ilmiah berjudul: Agama, Etika Profetik dan Keadaban Publik. Ia menyoroti kompleksitas tantangan agama di era modern.

Guru besar UMSU ini menyampaikan bahwa kemajuan teknologi telah menyedot perhatian masyarakat, bahkan membuat sebagian orang menganggap agama tidak lagi penting. "Agama saat ini memiliki masalah yang kompleks. Kemajuan teknologi menyedot perhatian yang tidak kecil. Bagi sebagian orang, agama tidak penting dan harus ditinggalkan," ujarnya.

Prof. Dr. Muhammad Qorib, M.A menegaskan bahwa agama sejatinya mengintegrasikan dua entitas yang tidak terpisahkan dan bertujuan untuk menghadirkan kesejahteraan.

Guru Besar UMSU pun mempertanyakan realitas yang terjadi saat ini. Ia juga menekankan pentingnya etika profetik yang mengandung nilai humanisasi dan transendensi sebagai solusi membangun keadaban publik. (dmp)

Editor : Johan Panjaitan
#mendikdasmen #dikdasmen #umsu #guru besar #era digital