TAPSEL, Sumutpos.jawapos.com-Lebih dari sebulan pasca banjir bandang Sungai Garoga yang melanda kawasan perbatasan Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Tengah (Tapteng) pada 25 November 2025, aktivitas ekonomi masyarakat setempat masih belum bergerak.
Lumpuhnya denyut perdagangan dipicu belum berfungsinya Pasar Huta Godang, pusat ekonomi yang menopang transaksi hasil bumi dari sedikitnya delapan desa di wilayah perbatasan tersebut.
Pantauan sumutpos.jawapos.com, Rabu (24/12/2025), menunjukkan kondisi Pasar Huta Godang—pasar kelas III—mengalami kerusakan berat. Struktur bangunan bagian bawah serta sisi kiri dan kanan pasar tampak jebol akibat hantaman kayu-kayu besar dan timbunan lumpur tebal yang terbawa derasnya arus Sungai Garoga.
Sejumlah kios di bagian depan pasar rusak parah, tanpa pintu dan tidak lagi layak digunakan untuk berjualan. Hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari Pemerintah Daerah terkait kejelasan nasib pasar tersebut, apakah akan direhabilitasi dan difungsikan kembali atau justru direlokasi ke lokasi lain.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga dan pedagang, terlebih menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Natal dan Tahun Baru, serta Ramadhan dan Idul Fitri. Ketiadaan kepastian membuat roda ekonomi masyarakat terdampak banjir bandang kian terhenti.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Tapanuli Selatan, Padot Harahap, saat dikonfirmasi sumutpos.jawapos.com melalui pesan WhatsApp, Rabu (24/12/2025), mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada rencana untuk mengaktifkan kembali Pasar Huta Godang sebagai tempat berjualan bagi 139 pedagang.
Menurutnya, pasar tersebut masih difungsikan sebagai lokasi penampungan pengungsi, dapur umum, serta gudang logistik bantuan bencana.
“Kondisi pasar-pasar di Tapsel yang terdampak bencana, khususnya Pasar Huta Godang, sudah kami laporkan ke Kementerian Perdagangan. Hasil koordinasi menyimpulkan bahwa kami harus menunggu keputusan apakah permukiman warga Desa Huta Godang akan direlokasi atau tidak. Jika permukiman direlokasi, maka pasar juga otomatis akan dipindahkan,” jelas Padot Harahap.
Pantauan di lapangan juga menunjukkan lantai dasar pasar mengalami kerusakan paling parah. Sementara itu, lantai atas bangunan saat ini dimanfaatkan sebagai posko gabungan TNI-Polri dan masyarakat untuk keperluan penanganan pascabencana.
Tanpa kepastian arah kebijakan dan percepatan penanganan, masyarakat di kawasan perbatasan Tapsel–Tapteng terancam terus kehilangan sumber penghidupan.
Warga berharap pemerintah segera mengambil keputusan strategis agar geliat ekonomi dapat kembali bergerak dan kehidupan pascabanjir bisa segera pulih.(mag-10/han)
Editor : Johan Panjaitan