Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Proyek Tambal Sulam Jalan di Binjai Makan Korban, Transparansi dan Kecepatan Dipertanyakan

Johan Panjaitan • Senin, 13 April 2026 | 20:22 WIB

MAKAN KORBAN: Proyek tambal sulam Dinas PUTR Binjai di Jalan Amir Hamzah yang mengakibatkan korban. (Teddy Akbari/Sumut Pos)
MAKAN KORBAN: Proyek tambal sulam Dinas PUTR Binjai di Jalan Amir Hamzah yang mengakibatkan korban. (Teddy Akbari/Sumut Pos)

 

BINJAI, Sumutpos.jawapos.com – Niat memperbaiki infrastruktur justru berbalik menjadi ancaman di jalanan. Proyek tambal sulam yang tengah dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Binjai kini menuai sorotan, setelah memicu kecelakaan di salah satu ruas jalan utama.

Insiden terjadi di Jalan Amir Hamzah, ketika seorang pengendara terjatuh diduga akibat menghindari lubang yang menganga—bekas pengerukan yang belum kunjung ditutup. Kondisi ini bukan hanya membahayakan, tetapi juga memunculkan pertanyaan serius soal standar pelaksanaan proyek.

“Seharusnya setelah dikeruk langsung ditutup. Jangan dibiarkan berhari-hari sampai makan korban,” ujar seorang warga yang merekam kejadian tersebut dan mengunggahnya ke media sosial.

Keluhan serupa mencerminkan keresahan pengguna jalan. Lubang-lubang yang dibiarkan terbuka tanpa pengamanan memadai dinilai sebagai bentuk kelalaian, bukan sekadar kendala teknis.

Baca Juga: Pulihkan Semangat Belajar Siswa, Bakti BCA Gelar Pelatihan Matematika Menyenangkan ala GASING di Aceh Tamiang

Kepala Dinas PUTR Binjai, Wahyu Umara, mengakui bahwa pihaknya tengah melakukan pemeliharaan jalan dengan metode tambal sulam. Namun, penjelasan yang diberikan belum menjawab kegelisahan publik, terutama terkait jeda waktu antara pengerukan dan penutupan jalan.

“Pekerjaan sedang kita laksanakan, saat ini masih tahapan cutting di beberapa lokasi,” ujarnya singkat.

Proyek ini tidak hanya berlangsung di satu titik. Sejumlah ruas jalan lain turut masuk dalam daftar pekerjaan, di antaranya Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Anggrek, Jalan Imam Bonjol, Jalan Ahmad Yani, hingga Jalan Juanda. Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp400 juta, dengan tambahan alokasi pemeliharaan jalan tahun 2026 sebesar Rp1,2 miliar.

Namun di balik angka-angka tersebut, muncul ironi lain. Kawasan sekitar Pasar Tavip—yang dikenal sebagai salah satu denyut utama perekonomian Kota Binjai—justru belum tersentuh prioritas perbaikan. Padahal, proyek penanganan jalan di kawasan itu sebelumnya sempat masuk dalam perencanaan APBD 2025 dengan nilai mencapai Rp1,9 miliar dan bahkan telah tayang di LPSE.

Baca Juga: Bupati Labusel Tekankan MTQ Profesional Tanpa Konflik, Hadiah Diminta Cair Maksimal Sehari

Kondisi ini memperlihatkan persoalan yang lebih dalam dari sekadar tambal sulam jalan. Ada pertanyaan tentang perencanaan, prioritas anggaran, hingga pengawasan pelaksanaan di lapangan.

Di tengah tuntutan efisiensi penggunaan anggaran publik, proyek infrastruktur semestinya tidak hanya berorientasi pada serapan dana, tetapi juga keselamatan dan kenyamanan masyarakat.(ted/han)

Editor : Johan Panjaitan
#proyek #jalan #tambal sulam #lubang hitam