BINJAI, Sumutpos.jawapos.com- Gerbang balai kota yang dirobohkan pedagang kaki lima (PKL) dan mahasiswa dalam aksi demo telah diketahui Wali Kota Binjai, Amir Hamzah. Namun, aksi tersebut menuai pro dan kontra pada sejumlah kalangan mahasiswa hingga tim pendukung.
Terutama yang kontra, dengan desakan agar aparat kepolisian menangkap koordinator aksi. Sebab, aksi massa yang telah merobohkan gerbang yang merupakan aset negara adalah sebuah persoalan besar.
Desakan-desakan menangkap koordinator aksi juga dicuitkan dan diunggah dalam media sosial mereka yang notabene adalah pendukung hingga tim sukses saat Pilkada 2024 kemarin. Amir yang diwawancarai soal tersebut menjawab dengan mendinginkan suasana.
Mantan Kepala BKD Binjai ini memaafkan aksi massa dari PKL yang telah merobohkan gerbang balai kota. "Saya tidak akan melaporkan, saya lihat itu semua videonya dari awal," ungkap Amir saat diwawancarai usai berdialog dengan PKL yang digusur Satpol PP Binjai di balai kota, Rabu (29/4/2026).
"Dan saya tidak akan melaporkan masyarakat saya. Itu masyarakat saya, dan saya harus melindungi mereka," sambungnya.
Amir menilai, aksi demo hingga merobohkan gerbang kantornya itu mungkin karena emosi PKL terpancing. "Mereka mau bertemu dengan saya, tapi saya ada undangan dari kementerian dalam negeri di Palembang, dan ada urusan yang penting di Jakarta," katanya.
"Sehingga itu mungkin bentuk kekecewaan mereka. Dengan itu saya berharap ini yang terakhir dan kedepan jangan adalah lagi yang merusak fasilitas negara," pungkasnya.
Sebelumnya, penggusuran pedagang kaki lima (PKL) yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Binjai berbuntut panjang. Ironisnya, penggusuran yang dilakukan PKL terjadi tanpa ada rencana matang relokasi.
Baca Juga: Cuaca Panas di Medan Capai 36 Derajat Celcius
Artinya, Satpol PP Binjai melakukan penggusuran terhadap pedagang di Jalan Bandung dan Olahraga, tanpa ada perencanaan matang untuk melakukan pemindahan.
Buntutnya, seratusan PKL menggeruduk Balai Kota Binjai di Jalan Jenderal Sudirman, Senin (27/4/2026). Mereka ingin bertemu dengan Wali Kota Binjai, Amir Hamzah atas langkah Satpol PP yang melakukan penggusuran.
Sayangnya, orang nomor satu di Pemko Binjai itu sedang tidak berada di tempat. Kekecewaan massa atas penggusuran itu meluas dan berbuntut panjang.
Setibanya massa di depan Balai Kota Binjai, massa membentangkan spanduk besar dan karton bertuliskan tuntutannya serta mengibarkan sang saka merah putih. Saat permintaan ingin bertemu wali kota tidak terpenuhi, massa pun memaksa masuk ke balai kota.
Meski mendapat pengawalan ketat Satpol PP, hal tersebut tak menyurutkan langkah massa. Akibatnya, terjadi aksi dorong-dorongan antara massa dengan penegak peraturan daerah yang buntutnya, gerbang putih yang terpasang di balai kota ambruk dan rubuh. (ted/han)
Editor : Johan Panjaitan