Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Masjid Jamik dan Ghaudiyah Medan Lestarikan Kuliner India Selatan saat Ramadan

Johan Panjaitan • Minggu, 1 Maret 2026 | 17:30 WIB

Proses pembuatan bubur sop khas India Selatan Masjid Jamik, yang terus dilestarikan setiap bulan Ramadan, Sabtu (28/2/2026).(GUSMAN/SUMUT POS)
Proses pembuatan bubur sop khas India Selatan Masjid Jamik, yang terus dilestarikan setiap bulan Ramadan, Sabtu (28/2/2026).(GUSMAN/SUMUT POS)

MEDAN, Sumutpos.jawapos.com-Di tengah keragaman etnis yang membentuk wajah budaya Kota Medan, sebuah tradisi kuliner lintas generasi terus hidup setiap Ramadan. Dari dapur sederhana dua rumah ibadah bersejarah—Masjid Jamik Kebun Bunga di Jalan Taruna dan Masjid Ghaudiyah di Jalan Zainul Arifin—aroma rempah India Selatan mengepul, menandai dimulainya persiapan hidangan berbuka puasa bagi ratusan jamaah.

Sejak 1960, kedua masjid tersebut mempertahankan tradisi memasak bubur sop khas India Selatan yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Sajian ini bukan sekadar menu berbuka, tetapi juga simbol warisan budaya komunitas India Muslim Selatan yang telah lama menjadi bagian dari denyut kehidupan Medan.

Ketua Yayasan India Muslim Selatan Sumatera Utara, Muhammad Siddik Saleh, menuturkan bahwa tradisi ini dijaga secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan identitas komunitas.

“Bubur sop ini sudah ada sejak tahun 1960 dan sampai sekarang masih kita pertahankan,” ujarnya, Sabtu (28/2/2026).

Baca Juga: Tiga Rumah Warga Hangus Dilalap Api di Dairi, Damkar Berjibaku Padamkan Kebakaran di Sidikalang dan Sumbul

Tak hanya bubur sop, berbagai hidangan khas India Selatan turut disiapkan selama Ramadan. Menu seperti kari kambing, nasi briyani, hingga teh chai memperkaya santapan berbuka yang sarat cita rasa rempah. Untuk menghadirkan hidangan tersebut, pengurus masjid mengalokasikan dana sekitar Rp5 hingga Rp6 juta setiap hari. Pada akhir pekan, anggaran dapat meningkat hingga Rp10 juta karena tambahan menu spesial.

Dalam sehari, dapur masjid mengolah sekitar 30 kilogram daging, 40 kilogram beras, santan segar, serta beragam rempah pilihan. Bagi komunitas ini, memasak bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan upaya menjaga keaslian rasa yang telah diwariskan puluhan tahun.

Siddik menjelaskan, nasi briyani yang kini akrab di lidah masyarakat dulunya dikenal sebagai hidangan istimewa di lingkungan kerajaan India. Seiring perjalanan waktu, sajian tersebut menyebar luas hingga menjadi bagian dari kuliner populer di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pada hari biasa selama Ramadan, hidangan yang disajikan adalah bubur sop dan teh chai khas India Selatan. Minuman chai memiliki karakter rasa unik—perpaduan teh tarik dengan sentuhan rempah hangat yang mengingatkan pada bandrek.

Menurut Siddik, tradisi chai juga memiliki akar sejarah yang menarik. Minuman ini dahulu identik dengan jamaah Tabligh di kawasan Nizamuddin, India, yang konon menyajikannya untuk membangunkan orang agar tetap bersemangat menjalani aktivitas.

Baca Juga: Maskapai Dunia Panik! Penerbangan Dibatalkan, Ratusan Penumpang Terlantar

Proses memasak dilakukan terpisah di dua masjid tersebut. Teh chai diracik di Masjid Jamik Kebun Bunga, sementara bubur sop dimasak di Masjid Ghaudiyah. Kedua masjid ini berdiri di atas tanah wakaf yang diberikan oleh Sultan Deli pada 1887. Luas Masjid Jamik mencapai sekitar setengah hektare, sedangkan Masjid Ghaudiyah berdiri di lahan sekitar 4.000 meter persegi. Bangunan asli Masjid Ghaudiyah sendiri pernah terdampak pelebaran jalan sehingga kemudian dipindahkan ke bagian belakang.

Cita rasa bubur sop yang khas tetap terjaga karena penggunaan rempah segar serta metode pengolahan tradisional. Bumbu digiling secara manual, bukan menggunakan blender, demi mempertahankan aroma dan karakter rasa yang autentik.

“Kualitas rempah adalah yang utama. Dari dulu sampai sekarang rasanya tetap sama,” tegas Siddik.

Antusiasme masyarakat setiap Ramadan pun sangat tinggi. Dalam beberapa hari terakhir, sekitar 400 hingga 500 orang datang untuk berbuka puasa bersama. Tak jarang bubur sop habis sebelum seluruh pengurus masjid sempat menikmatinya.

Namun bagi mereka, hal itu bukan masalah. Jika makanan habis, pengurus biasanya menyiapkan alternatif berupa nasi bungkus.

“Yang penting jamaah dan masyarakat yang datang dari jauh bisa berbuka,” kata Siddik.

Baca Juga: Arsenal vs Chelsea: Derbi London yang Bisa Menjadi Duri bagi The Gunners

Salmah, salah satu juru masak di Masjid Ghaudiyah, menjelaskan bahwa proses memasak bubur sop memerlukan waktu panjang. Daging terlebih dahulu direbus bersama rempah hingga empuk, kemudian santan dimasukkan, disusul beras dan tomat. Seluruh bahan dimasak perlahan selama enam hingga tujuh jam hingga menghasilkan bubur dengan rasa gurih dan aroma rempah yang kuat.

Selama Ramadan, bubur sop dan teh chai ini terus dibagikan gratis kepada siapa saja yang datang. Di tengah hiruk-pikuk kota besar, tradisi tersebut menjadi bukti bahwa kebersamaan, kedermawanan, dan warisan budaya masih terjaga kuat di Kota Medan.(man/han)

Editor : Johan Panjaitan
#khas india #bubur sop ayam #ramadan #masjid jamik