Sumutpos.jawapos.com - Perkembangan teknologi digital dan masifnya penggunaan media sosial menjadikan bisnis online terus berevolusi. Memasuki tahun 2026, tren usaha digital tidak lagi sekadar soal jual beli daring, tetapi menyangkut pengalaman, kecepatan, personalisasi, dan kedekatan dengan audiens.
Berdasarkan pola konten viral, diskusi kreator, hingga aktivitas jual beli di berbagai platform media sosial, berikut sejumlah pilihan bisnis online yang diprediksi “meledak” sekaligus bersifat evergreen atau berkelanjutan, seperti yang dilansir dari wearesocial.com, Senin (19/1/2026).
1. Social Commerce, Perpaduan Konten dan Transaksi
Media sosial kini menjadi etalase utama bisnis online. Fenomena social commerce, di mana pengguna membeli produk langsung dari konten terus tumbuh kuat.
Video pendek, ulasan jujur, hingga rekomendasi kreator membuat keputusan belanja terasa lebih personal. Platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook mendorong penjual untuk mengemas produk dalam bentuk cerita, bukan sekadar katalog.
Model bisnis ini dinilai berkelanjutan karena mengikuti kebiasaan pengguna yang gemar menonton, berinteraksi, lalu membeli dalam satu ekosistem.
2. Live Commerce, Jualan Sekaligus Hiburan
Live commerce menjadi bentuk lanjutan dari social commerce. Penjual memasarkan produk melalui siaran langsung sambil berinteraksi dengan audiens secara real-time.
Konsep ini diminati karena menghadirkan rasa kepercayaan, transparansi, dan urgensi. Diskon terbatas, demo produk langsung, serta sesi tanya jawab membuat konsumen lebih yakin sebelum membeli.
Bisnis pendukung live commerce seperti host profesional, tim produksi live, hingga konsultan strategi live selling juga ikut berkembang.
3. Jualan Lewat Chat (Chat Commerce)
Penjualan melalui aplikasi pesan instan semakin digemari karena praktis dan terasa lebih personal. Konsumen bisa bertanya, menawar, hingga menyelesaikan pembayaran tanpa harus berpindah platform.
Chat commerce cocok untuk UMKM, jasa, hingga produk custom karena memungkinkan komunikasi dua arah yang intens. Ke depan, bisnis berbasis chat diprediksi semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan chatbot dan otomatisasi layanan pelanggan.
4. Jasa Berbasis AI untuk Bisnis Online
Kecerdasan buatan telah menjadi alat penting dalam dunia usaha digital. Banyak pebisnis memanfaatkan AI untuk membuat konten, membalas pesan pelanggan, menganalisis tren, hingga mengelola iklan.
Hal ini membuka peluang bisnis baru, seperti jasa pembuatan chatbot, manajemen konten berbasis AI, hingga pelatihan penggunaan AI untuk UMKM. Karena teknologi terus berkembang, layanan berbasis AI dinilai sebagai bisnis online jangka panjang.
5. Produk Digital dan Sistem Berlangganan
Produk digital seperti kursus online, ebook, template, hingga software berlangganan semakin diminati. Model ini menawarkan keuntungan besar karena tidak membutuhkan stok fisik dan dapat dijual berulang kali.
Bisnis berbasis subscription juga memberi pemasukan stabil, terutama jika mampu membangun komunitas dan kepercayaan audiens. Selama kebutuhan akan edukasi dan solusi digital terus ada, produk digital akan tetap relevan.
6. E-Commerce Niche dan Produk Lokal
Alih-alih menyasar pasar luas, banyak pelaku usaha kini fokus pada segmen tertentu atau niche market. Produk lokal dengan cerita kuat, nilai budaya, atau konsep keberlanjutan lebih mudah menarik perhatian di media sosial.
Pendekatan ini membuat bisnis lebih tahan persaingan karena memiliki identitas dan audiens loyal. Strategi niche juga memudahkan pemasaran melalui konten yang spesifik dan relevan.
Tren bisnis online di 2026 tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga perubahan gaya hidup digital. Konsumen kini:
- Lebih percaya rekomendasi kreator dan komunitas
- Mengutamakan kemudahan dan kecepatan
- Menyukai interaksi langsung dengan penjual
- Menghargai pengalaman, bukan hanya harga
Selama bisnis mampu beradaptasi dengan pola tersebut, peluang untuk bertahan dan berkembang akan tetap terbuka.
Kunci utama kesuksesan adalah konsistensi, kreativitas, dan kemampuan membangun kepercayaan audiens di ruang digital. (lin)
Editor : Redaksi