Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Atalia Praratya Soroti Penurunan Angka Pernikahan Sejak 2013, Tegaskan Pengalaman Pribadi Bukan Contoh

Redaksi • Kamis, 29 Januari 2026 | 07:56 WIB
Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. (Instagram @atalipr)
Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya. (Instagram @atalipr)

sumutpos.jawapos.com – Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, menyoroti fenomena penurunan angka pernikahan di Indonesia yang terus terjadi sejak 2013. Ia menilai tren tersebut perlu menjadi perhatian serius pemerintah karena berkaitan langsung dengan ketahanan keluarga dan pembangunan sosial jangka panjang.

Hal itu disampaikan Atalia dalam rapat kerja Komisi VIII DPR RI bersama Kementerian Agama di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/1/2026) yang kemudian viral di media sosial.

Menurutnya, penurunan angka pernikahan bukan sekadar persoalan pilihan individu, tetapi mencerminkan perubahan besar dalam dinamika sosial masyarakat Indonesia.

“Angka pernikahan kita ini terus menurun sejak 2013. Ini bukan hal kecil dan perlu disikapi secara komprehensif,” ujar Atalia, dilansir dari Instagram @undercover.id, Rabu (28/1/2026).

Atalia mengungkapkan, berdasarkan data yang ada, tren penurunan tersebut terjadi secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini, kata dia, sejalan dengan fenomena yang juga dialami sejumlah negara lain, seperti Jepang, Korea Selatan, hingga China, yang menghadapi penurunan angka pernikahan sekaligus tantangan demografi.

Ia menilai, berbagai faktor menjadi penyebab turunnya minat menikah, mulai dari tekanan ekonomi, perubahan nilai dan gaya hidup generasi muda, hingga meningkatnya prioritas pada pendidikan dan karier. Ketidakpastian masa depan juga disebut turut memengaruhi keputusan banyak orang untuk menunda bahkan menghindari pernikahan.

Dalam kesempatan itu, Atalia juga menyinggung kehidupan pribadinya. Ia menegaskan bahwa pengalaman rumah tangganya tidak seharusnya dijadikan contoh atau dikaitkan dengan fenomena sosial tersebut.

“Apa yang terjadi pada saya itu bukan contoh. Jangan dijadikan pembenaran atau alasan untuk melihat fenomena ini secara sempit,” tegasnya.

Menurut Atalia, pembahasan mengenai pernikahan dan keluarga harus ditempatkan dalam kerangka kebijakan publik yang lebih luas. Ia mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Agama, untuk memperkuat program pembinaan dan pendampingan pranikah agar calon pasangan memiliki kesiapan mental, emosional, dan ekonomi.

Ia juga mengapresiasi sejumlah program yang telah dijalankan Kementerian Agama, seperti bimbingan pranikah dan penguatan nilai-nilai keluarga sakinah. Namun, ia menilai upaya tersebut masih perlu ditingkatkan agar mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan generasi muda saat ini.

“Ketahanan keluarga adalah fondasi bangsa. Kalau angka pernikahan terus menurun tanpa ada solusi yang tepat, ini bisa berdampak panjang ke depan,” katanya.

Baca Juga: Ini Cara Kerja Whip Pink yang sedang Viral, Menurut Kepala BPOM Taruna Ikrar

Atalia berharap ke depan pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang lebih adaptif, termasuk dukungan ekonomi, edukasi keluarga, serta pendekatan budaya dan sosial yang relevan dengan realitas generasi sekarang. Dengan demikian, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai institusi yang memberikan rasa aman dan harapan bagi masa depan. (lin)

Editor : Redaksi
#rapat kerja Kementerian Agama #Atalia Praratya #komisi viii dpr #angka pernikahan #generasi muda