Jurnalis dan Corcomm Tambang Emas Martabe foto bersama di pintu masuk menuju Tambang Emas Toka Tindung PT Meares Soputan Mining di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Rencana penutupan tambang tak hanya bicara soal mengembalikan alam ke fungsi semula, tetapi juga bicara tentang kesejahteraan masyarakat lingkar tambang. Akan bagaiman kondisi masyarakat setempat pascapenutupan tambang?
-----------------------------------
Dame Ambarita, Minahasa
-----------------------------------
PT Newmont Minahasa Raya di Desa Ratatotok dan Desa Buyat, Mihanasa, Sulawei Utara telah ditutup tahun 2004 lalu. Sejak awal beroperasi, perusahaan menyadari mereka tidak bisa selamanya berkarya di Ratatotok dan Buyat, Sulawesi Utara. Karena itu, mereka menciptakan kemandirian dengan melakukan persiapan jauh-jauh hari.
“Saat masih beroperasi, Newmont telah melatih SDM warga lingkar tambang menjadi tenaga mandiri, dengan memberi beragam pelatihan,” kata Environ Manager PT PTNMR, Jerry Kojansow, yang menyambut kunjungan empat jurnalis Sumut yang datang melakukan studi banding atas undangan Tambang Emas Martabe, pertengahan minggu lalu.
Ia menjelaskan, kondisi Ratatotok dan sekitarnya saat ini, sangat berbeda sebelum Newmont beroperasi. “Sejak tambang beroperasi, semua berkembang pesat,” kata Jerry.
Saat PTNMR mengawali kegiatannya tahun 1996 lalu, Desa Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara hanya memiliki 2 desa. Lima tahun kemudian, Rakatotok berkembang menjadi 15 desa, menyusul pemekaran Kecamatan Ratatotok.
Sebagai daerah pertambangan tentu menjadi magnet bagi orang-orang di segala penjuru untuk datang mengadu nasib yang kemudian menetap, menikah dan beranak pinak. Tak mengherankan jika daerah tersebut didiami beragam suku seperti Gorontalo, Sangir, Minahasa, Bugis, Jawa, dan Bolaang Mongondow. Jumlah penduduk meningkat mencapai 11.487 (data 2011).
Meningkatnya jumlah penduduk menciptakan beragam masalah sosial dan ekonomi. Untuk mengatasi sekaligus mempersiapkan warga lebih mandiri, PTNMR pun menyiapkan berbagai program pembangunan berkelanjutan. Antara lain membangun gedung sekolah, pemberian beasiswa dari tingkat SD hingga perguruan tinggi, bahkan tenaga pendidik. PTNMR juga berperan dalam meningkatkan minat baca dengan membangun perpustakaan.
“Dulu masyarakat di sini paling tinggi mengenyam pendidikan sampai SMP, kini sudah ada yang menjadi sarjana. Dan kami juga membiayai putra-putri di sini yang ingin menjadi perawat dan bidan,” kata Jerry.
Untuk program kesehatan, PTNMR membangun puskesmas, pustu, dan posyandu. Selain itu secara intensif memberikan pengobatan gratis, pelatihan bidan kampung, pengadaan alat kesehatan dan mobil ambulans, juga peningkatan kapasitas dokter .
RSUP RatatotokBuyat, satusatunya RSUP Tipe C di Minahasa Tenggara, berdiri diatas lahan 3 hektar dengan dana pembangunan Rp66 miliar sumbangan PTNMR.
Selanjutnya program pengembangan ekonomi. Masyarakat Buyat dan Ratatotok sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan. PTNMR memberikan bantuan dana kepada para nelayan untuk budidaya rumput laut, bantuan mesin ketinting untuk usaha penangkapan ikan, budidaya kerapu, pengasapan ikan, usaha virgin coconut oil, hingga kucuran kredit mikro bergulir. Petani pun demikian. PTNMR memberikan bantuan traktor tangan, peralatan penggiling jagung, di samping pengembangan kapasitas untuk usaha industri rumah gula aren, dan pembuatan abon ikan.
Dengan intervensi PTNMR, ekonomi dan status social masyarakat di wilayah lingkar tambang meningkat drastis. Hal ini dibuktikan dengan hasil survey dari sejumlah lembaga termasuk Tim Peneliti Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi.
“Survey tersebut mencatat bahwa pada Tahun 1994 pengeluaran konsumsi per keluarga setiap tahun rata-rata hanya Rp 2.050.175 dengan pendapatan Rp 1,4 juta. Setelah ada Newmont meningkat menjadi Rp 7,2 juta—7,4 juta pada Tahun 2002 dengan pendapatan Rp 8,5 juta,” kata Jerry.
Seiring dengan peningkatan kesejahteraan, pengeluaran masyarakat per keluarga pada Tahun 2011 melonjak signifikan tercatat Rp 15,4 juta dengan pendapatan Rp 21.5 juta. Demikian dengan rumah permanen dari hanya 2,2 persen pada Tahun 1994 menjadi 35—57 persen Tahun 2002, lalu meningkat 69 persen pada Tahun 2011.
Salah satu SPDN yang dibangun PTNMR untuk memenuhi kebutuhan BBM para nelayan di Desa Ratatotok dan Desa Buyat, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara.
Program lainnya yang dilaksanakan PTNMR adalah perbaikan dan pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, perumahan di Pantai Buyat, kantor desa dan balai pertemuan di tiap desa, kantor camat, RSUD, lapangan sepak bola, kantor Koramil dan Polsek Ratatotok. Kemudian pembangunan pasar, terminal, talud sungai, gorong-gorong dan saluran air, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pelabuhan perikanan, serta SPDN untuk melayani kebutuhan bahan bakar minyak bagi para nelayan. Selain itu pembangunan instalasi dan pemipaan air bersih untuk Ratatotok dan Buyat.
Sejak penutupan tambang, PTNMR telah menyerahkan tanggungjawab keberlanjutan program pengembangan ekonomi kemasyarakatan kepada yayasan yang dibentuknya. Adalah Yayasan Minahasa Raya, Yayasan Ratatotok Buyat, dan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara. Diharapkan melalui pembinaan yayasan tersebut masyarakat sudah bisa mandiri sebagai bentuk kesiapan dalam menghadapi pasca tambang.
Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono menerima souvernir dari manajemen PT MSM. Tampak Yolhedi Manager OHS PT MSM (kanan), Agung Praptomo selaku Kepala Teknik Tambang PT MSM (kedua kanan), Jakob Tumondo selaku Goverment and Land Manager, dan Hery Rumondor selaku Superintendent PR and Communication PT MSM dan PT TTM (kiri), di kantor Tambang Emas Toka Tindung PT Meares Soputan Mining di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
PTNMR telah terbukti mampu meninggalkan masyarakat yang sejahtera pascapenutupan tambang. Bagaimana dengan Toka Tindung Gold Mine Project di Minahasa dan Tambang Emas Martabe di Sumut?
Yolhedi selaku Manager OHS Tambang Emas Toka Tindung PT Meares Soputan Mining didampingi Johanes Untung sebagai Superintendent Community Development, mengatakan, agar keberadaan tambang emas bermanfaat bagi warga sekitar, PT MNM dan PT TTN secara berkesinambungan menyalurkan dana Coorporate Social Responsibility (CSR).
"Sejak tahun 2014 hingga tahun ini, sudah disusun program pemberdayaan masyarakat bersama pemerintah, agar program tumpang tindih. Tambang Toka Tindung melakukan pembangunan infrastruktur, pendidikan, pengembangan bisnis masyarakat, pemberian kredit mikro, dan kesehatan.
"Sekarang ada 13 desa lingkar tambang yang menerima manfaat PPM. Antara lain dalam hal kesehatan, antara lain pembangunan puskesmas dan pustu, posyandu, pengobatan gratis, dan pencegahan malaria pada masyarakat. Dalam bidang pendidikan, ada pendidikan buat guru–guru, juga beasiswa kepada puluhan mahasiswa menimba ilmu ke China. Setiap tahun diberangkatkan 30 orang," ujar Johanes Untung.
Dengan berbagai program pemberdayaan masyarakat ini Tambang Toka Tindung berharap masyarakat 13 desa lingkar tambang menerima manfaat dari keberadaan tambang, dan mampu lebih mandiri di masa mendatang.
Kebiasaan masyarakat setempat mengonsumsi minuman keras juga lambat laun berubah dengan adanya kebijakan manajemen Tambang Emas Toka Tindung meindak karyawan yang ketahuan meminum miras. “Setiap karyawan dicek kadar alkohol dalam darahnya. Jika di ambang batas, karyawan akan dikenai sanksi hingga PHK. Sementara karyawan kita 70 persen adalah lokal. Jadi kebijakan ini dinilai mampu menurunkan konsumsi miras,” kata Johanes.
Direktur Operasional Tambang Emas Martabe, Ed Cooney (kanan), bersama Bupati Tapanuli Selatan Syahrul M. Pasaribu (kiri), Danrem 023/KS Kol. Inf. Donni Hutabarat (kelima kiri), dan Dandim 0212/TS Letkol Inf. Septa Piandi (ketiga kanan) melaksanakan penanaman perdana 3 hektar padi organik, Selasa (14/2), di Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumut. Penanaman padi ini adalah program CSR Tambang Emas Martabe.
Sama halnya dengan PTNMR dan Tambang Toka Tindung, Tambang Emas Martabe juga komit menyejahterakan masyarakat desa lingkar tambang selama perusahaan tambang beroperasi, sekaligus menyiapkan masyarakat untuk mandiri pascapenutupan tambang di masa mendatang.
“Kami terus meningkatkan dukungan pengembangan masyarakat. Salah satunya dengan memberikan kesempatan kepada masyarakat setempat untuk bekerja di Tambang Emas Martabe. Sejak awal proyek, perusahaan menargetkan mempekerjakan 70% tenaga kerja lokal untuk penempatan site. Pada akhir tahun lalu, terdapat total 1.672 pekerja lokal atau sudah mencapai 70,4%,” tambah Tim Duffy, Presiden Direktur Agincourt.
Hingga akhir tahun lalu, PT Agincourt Resources mempekerjakan 730 orang di Tambang Emas Martabe dan 29 orang di kantor pusat, di Jakarta. Sebagai tambahan, 1.615 karyawan kontraktor dipekerjakan di Tambang Emas Martabe sehingga total terdapat 2.374 orang yang bekerja di site.
General Manager Operations PT Tambang Emas Martabe Ed Cooney memberikan kata sambutan pada acara Penganugerahaan Program Beasiswa Martabe Prestasi, Senin, 7 Agustus 2017.
Agincourt juga menargetkan enam bidang utama untuk memberikan dukungan kepada masyarakat lokal, yakni kesehatan, pendidikan, pertanian, infrastruktur publik, bisnis lokal dan pembangunan ekonomi, dan identitas sosial dan budaya. “Pada 2015, kami menghabiskan US$ 1,26 juta pada program pengembangan masyarakat,” tandas Duffy.
Dalam bidang pengembangan masyarakat, Tambang Emas Martabe telah mengalokasikan US$1,16 juta atau naik dari 2015 US$1,27 juta. Alokasi terbesar yakni untuk membangun infrastruktur publik seperti penyelesaian dan menyerahterimakan Mesjid Raya Al-Jihad di Kecamatan Muara Batangtoru, pembangunan sistem air bersih dengan panjang pipa 16 km untuk 24 lokasi, Rambin Pulogodang sepanjang 174 meter, serta mobil Pemadam Kebakaran berkapasitas 4000 liter.
Ada pula perbaikan konstruksi jalan untuk sembilan desa, toilet umum, renovasi Puskesmas Batangtoru, dan sebagainya. Agincourt menargetkan enam bidang utama untuk memberikan dukungan kepada masyarakat lokal, yakni kesehatan, pendidikan, pertanian, infrastruktur publik, bisnis lokal dan pembangunan ekonomi, dan identitas sosial dan budaya.
“Semua ini merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap dinamika kehidupan masyarakat. Proyek tanggung jawab sosial perusahaan ini memberi nilai tambah di wilayah di mana kami bekerja, mengembangkan bisnis jangka panjang yang berkelanjutan Kami berharap, semua program ini bermanfaat bagi banyak orang dan berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan Kabupaten Tapanuli Selatan dan Provinsi Sumatera Utara. Ke depannya, kehidupan masyarakat lingkar Tambang Emas Martabe akan meningkat seiring dengan kemajuan yang dicapai Tambang Emas Martabe,” kata Tim Duffi. (mea/habis) Editor : Admin-1 Sumut Pos