Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Sidang Kematian Prada Lucky, Letda Roni Jadi Pemicu Tindakan Kekerasan

Juli Rambe • Rabu, 5 November 2025 | 22:46 WIB
Komandan Peleton, Letda Inf. Roni Setiawan, dicerca oditur saat sidang Prada Lucky. (Dok Dilmil Kupang).
Komandan Peleton, Letda Inf. Roni Setiawan, dicerca oditur saat sidang Prada Lucky. (Dok Dilmil Kupang).

 

SUMUT POS- Sidang lanjutan kasus kematian Prada Lucky Chepril Saputra Namo kembali menemukan fakta baru. Dalam sidang beragenda mendengarkan keterangan saksi tersebut, diketahui bahwa tudingan Prada Lucky Namo seorang LGBT hanya sebuah asumsi.

Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Militer III-15 Kupang, Selasa (4/11/2025), tersebut, Komandan Peleton Letda Inf. Roni Setiawan mendapat pertanyaan tajam dari Oditur Militer, Letkol Chk Alex Panjaitan, usai memberi kesaksian.

Letda Roni dihadirkan sebagai saksi setelah sebelumnya absen pada persidangan pekan lalu. 

Dalam kesaksiannya, terungkap bahwa ia menjadi orang pertama hingga munculnya tudingan LGBT di lingkungan anak buahnya. Perwira ini yang memeriksa handphone (HP) milik Prada Lucky hingga menuding korban terindikasi penyimpangan seksual.

Roni mengaku memeriksa HP Prada Lucky pada malam 27 Juli 2025 atas permintaan Dansi Intel, Sertu Thomas Awi. Alasannya, untuk menelusuri kemungkinan keterlibatan anggota dalam judi online.

Namun, dari pemeriksaan itu, Roni justru membuka pesan WhatsApp pribadi dan menemukan percakapan yang menurutnya mengarah pada “penyimpangan seksual”.

“Saya periksa HP untuk antisipasi judi online. Saat itu ada notifikasi WA, lalu saya lihat percakapan dan foto tanpa baju. Kami laporkan ke atasan,” ujar Roni di persidangan.

Oditur langsung mempertanyakan dasar hukum pemeriksaan HP tanpa izin dan menilai tindakan Roni melanggar privasi prajurit.

“Apakah di barak tidak pakai baju itu aneh?” tanya Oditur.

“Siap, tidak aneh,” jawab Roni singkat.

Dari laporan Roni inilah, Prada Lucky yang bertugas di dapur dipanggil oleh Komandan Kompi A, Lettu Ahmad Faisal. Dalam sidang sebelumnya, Ahmad mengaku mencambuk Prada Lucky saat apel malam. Namun Roni membantah melihat langsung peristiwa itu dan menyebut korban hanya diperintahkan merayap sejauh 25 meter.

Roni juga mengaku tidak tahu saat Dansi Intel Sertu Thomas Awi datang menjemput Prada Lucky di lapangan, meski saksi lain menyatakan Awi hadir malam itu.

“Jujur saja! Yang lain sudah kami periksa. Datang tidak Dansi Intel ke lapangan?” tanya Oditur Alex Panjaitan.

Roni akhirnya mengaku bahwa Dansi Intel memang datang malam itu.

Oditur kembali menegur Roni karena dianggap tidak berperan aktif saat anak buahnya disiksa.

“Saksi ini komandan peleton loh, perpanjangan tangan komandan batalion. Harusnya memperhatikan, jangan cuek!” ujar Oditur lagi.

Roni mengaku terakhir melihat Prada Lucky pada 29 Juli 2025 ketika hendak dipindahkan ke rumah jaga. Ia sempat menanyakan kondisi korban, tetapi tidak mendapat jawaban. Setelah itu, Roni mengaku tidak lagi mengecek keadaan Lucky.

“Hanya serah terima begitu saja? Tidak tanya lagi ke anak buah lain? Komandan peleton kok seperti itu?” kata Oditur.

Roni mengatakan sempat menjenguk Prada Lucky di RSUD Aeramo, Nagekeo, pada 3 Agustus 2025 pukul 12.00 WITA. Ia menyemangati korban dan menawari makan.

“Saya bicara menyemangati dia, tapi katanya sudah kenyang. Saya di sana sekitar 15 menit,” ujar Roni.

Pada 5 Agustus dini hari, Roni kembali ke rumah sakit dan melihat Prada Lucky sudah berada di ruang ICU. Ia berjaga hingga korban dinyatakan meninggal dunia pada 6 Agustus 2025.

Hakim anggota, Kapten Chk Dennis Carol Napitupulu, kemudian menegaskan bahwa tindakan Letda Roni memeriksa HP tanpa izin dan membuat asumsi soal LGBT menjadi pemicu rangkaian kekerasan yang menewaskan Prada Lucky.

“Terlepas dari apa yang ditemukan dengan cara itu, akibatnya ada prajurit yang mati. Anda paham konsekuensi dari perbuatan dan kesaksian Anda hari ini?” tegas hakim.

Sebelumnya diberitakan Prada Lucky meninggal dunia dengan luka lebam di tubuhnya. Pada sidang pertama, terungkap bahwa penganiayaan tersebut karena Prada Lucky Namo disebut seorang Gay. (bbs/ram)

 

Editor : Juli Rambe
#Kematian Prada Lucky #Kesaksian Letda Roni Setiawan #Sidang Kematian Prada Lucky