WASHINGTON DC, Sumutpos.jawapos.com– Harapan Omar Abdulkadir Artan untuk tampil di panggung terbesar sepak bola dunia harus pupus di tengah perjalanan. Wasit terbaik Afrika 2025 itu gagal bertugas di Piala Dunia 2026 setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat, salah satu tuan rumah turnamen tersebut.
Padahal, penugasan resmi dari FIFA telah di tangan. Wasit asal Somalia itu bahkan sudah tiba di Bandara Internasional Miami, Senin (8/6), dengan seluruh dokumen yang dinyatakan lengkap. Namun, rencana itu berbalik arah dalam hitungan jam—Artan justru dipulangkan ke Turki.
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) mengonfirmasi bahwa Artan batal bertugas karena kendala imigrasi dari pihak Amerika Serikat. Somalia sendiri masuk dalam daftar 12 negara yang dikenai kebijakan pembatasan perjalanan (travel ban) oleh pemerintah AS, yang berdampak pada proses masuk sejumlah delegasi Piala Dunia.
Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) menyatakan keputusan tersebut merupakan hasil dari prosedur pemeriksaan ketat atau vetting process untuk menentukan kelayakan masuk seseorang ke wilayah Amerika Serikat.
“Kami berwenang menanyai orang asing, memeriksa, dan menentukan kelayakan untuk masuk sesuai hukum AS,” demikian pernyataan CBP yang dikutip dari ESPN.
Ironisnya, Federasi Sepak Bola Somalia mengklaim bahwa Artan telah mengantongi visa resmi. Ia juga bukan nama baru dalam dunia perwasitan internasional, setelah masuk daftar wasit elite FIFA sejak 2018.
FIFA sendiri menegaskan tidak memiliki kewenangan dalam proses imigrasi negara tuan rumah. “FIFA tidak terlibat dalam proses imigrasi, termasuk penentuan visa,” tulis FIFA dalam pernyataan resminya.
Gelombang Kritik dan Dampak Luas
Kasus Artan memicu kritik dari berbagai pihak. Penasihat Kementerian Olahraga Somalia, Ciise Aden, menilai kebijakan tersebut mencederai prinsip fair play dalam sepak bola.
“Menolak masuknya wasit bukan hanya merugikan individu, tetapi juga merusak komitmen sepak bola terhadap keadilan dan sportivitas,” ujarnya.
Baca Juga: Obet Tarigan Divonis 2 Tahun Penjara karena Jual 13 Kilogram Sisik Treggiling
Tak hanya Somalia, sejumlah negara peserta juga terdampak kebijakan visa AS. Iran menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya, setelah proses pengurusan visa pemain dan ofisial sempat tertunda.
Keterlambatan tersebut bahkan memaksa tim Iran memindahkan lokasi persiapan dari Tucson, Amerika Serikat, ke Tijuana, Meksiko. Dari total delegasi, sekitar 14 ofisial dilaporkan belum memperoleh visa tepat waktu.
Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, menilai situasi ini tidak ideal menjelang turnamen sebesar Piala Dunia. “Dalam turnamen seperti ini, faktor persiapan sangat penting. Kami kehilangan waktu adaptasi yang seharusnya sangat krusial,” ujarnya seperti dikutip The Guardian.
Kapten tim Iran, Ehsan Hajsafi, juga mempertanyakan lambannya proses pengeluaran visa yang berdampak langsung pada persiapan tim.
Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) juga mengeluhkan hilangnya alokasi tiket untuk suporter. Padahal, setiap negara peserta seharusnya mendapat jatah sekitar delapan persen tiket.
Selain Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading juga disebut mengalami pembatasan serupa akibat kebijakan travel ban tersebut.
Kecaman Internasional
Kebijakan Amerika Serikat itu turut menuai kritik keras dari organisasi internasional. Amnesty International menilai kebijakan visa tersebut telah mencederai semangat inklusivitas Piala Dunia.
Baca Juga: Polres Labusel Rekonstruksi Kematian Wanri Tambak, Tersangka Peragakan 17 Adegan Krusial
“Piala Dunia adalah milik semua orang. Tidak ada Piala Dunia tanpa dunia,” tegas Amnesty dalam pernyataannya.
Kontroversi ini menambah sorotan terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026, yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—namun kini dibayangi persoalan diplomasi dan kebijakan imigrasi yang berdampak langsung pada dunia sepak bola.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan