BINJAI, SUMUTPOS.CO - Pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah Djoelham kembali mendapat sorotan dari keluarga pasien. Kali ini, sorotan tersebut datang dari keluarga Agung Pramana, Minggu (9/3/2025).
Anak Agung yang belum genap 1 tahun berinsial MAP meninggal dunia di rumah sakit milik Pemerintah Kota Binjai. Bayi 11 bulan itu meninggal dunia diduga akibat buruknya pelayanan RSUD Djoelham.
Ayah MAP menjelaskan, anaknya masuk ke RSUD Djoelham Binjai pada Senin (13/1/2025) lalu. Kondisinya ngedrop dan sesak karena batuk yang diidapnya sejak 2 pekan belakangan.
"Mulanya kami bawa ke RS Tentara Binjai dan langsung masuk ke ruang IGD. Anak saya langsung diperiksa, tapi dokter mengatakan anak saya harus dirujuk ke RSUD Djoelham," ujar Agung.
Alasan anaknya harus dirujuk ke RSUD Djoelham, kata Agung, karena di sana ada ruang PICU atau ruangan perawatan intensif untuk anak. Karenanya, Agung dan istrinya bergegas bawa anaknya ke RSUD Djoelham.
"Sesampai di RSUD, anak saya langsung dimasukkan ke dalam ruangan IGD, diberikan oksigen dan infus. Sedangkan saya melakukan pendaftaran BPJS," beber Agung.
Agung pun menceritakan, jika anaknya kehausan. Namun pihak rumah sakit pada waktu itu melarang untuk dikasih minum.
"Anak saya pun diambil sampel darahnya untuk diperiksa ke laboratorium. Kurang lebih dari 1 jam, hasil labnya pun keluar. Jika anak saya katanya sel darah putihnya sudah melampaui batas sekitar 20 ribu, lebih banyak dari darah merahnya," katanya.
Karena kondisi itu, anaknya harus dirawat secara intensif di ruang PICU. "Mulanya lagi anak saya jika makan dan minum harus melalui selang dari mulut. Namun kenyataanya melalui hidung. Gitu pun pihak rumah sakit ada meminta tandatangan kami selaku orangtua untuk menyetujuinya," ujar Agung.
"Jika itu yang terbaik lakukanlah kami bilang. Terus mereka (tim medis) bilang tentu kita akan berikan yang terbaik. Setelah saya menyetujuinya, dokter spesialis anak yang menangani, tidak dengan dokter yang biasa jika anak saya berobat ke RSUD Djoelham," sambungnya.
Anak Agung pun langsung dirawat di ruang PICU. Sejumlah alat dipasang ditubuh anaknya untuk mengetahui detak jantung dan pernapasan.
Namun kondisi MAP makin memprihatinkan. Menurut Agung, detak jantung anaknya sudah tidak normal, yaitu 300 per detik.
"Yang mengecewakannya lagi dokter spesialis anak tidak kunjung datang. Hanya perawat jaga saja yang ada di ruangan PICU tersebut," katanya.
"Sampai keesokan harinya di tanggal 14 Januari 2025, tepatnya di pagi hari, kami tanyakan sama perawat jaganya mana dokter spesialisnya kenapa belum datang juga," sambung Agung.
Dengan enteng perawat menjawab, jika dokter spesialis itu terkadang datang cepat dan kadang datang lama. Pada saat itu juga, Agung dan istrinya sangat gelisah melihat kondisi anaknya yang semakin memburuk.
"Tepat pukul 10.00 WIB, kami kembali menanyakan lagi kenapa dokter spesialis belum juga datang untuk memeriksa kondisi kesehatan anak kami. Sampai pukul 11.00 WIB berlalu, dokter spesialis tidak juga datang," ujar Agung.
Kondisi anak Agung kian tak berdaya. Sekitar pukul 12.00 WIB, MAP dinyatakan meninggal dunia.
"Saya dan keluarga sangat syok dan terkejut seakan tak percaya anak kami sudah meninggal dunia. Di situ dokter spesialis anak juga belum datang, keadaan semakin panik," katanya.
"Pihak RSUD lalu sibuk menelepon dokter spesialisnya bilang klau anak kami sudah gawat. Padahal memang sudah tidak bernyawa lagi," sambungnya.
Kepergian buah hati Agung sontak membuat keluarganya menangis histeris.
"Akhirnya dokter spesialis anak datang dan memompa anak kami memakai alat bantu udara. Buat apalagi anak kami sudah tak bernyawa. Sempat dokter itu becakap anak kami sudah tidak ada. Lalu dia pergi meninggalkan ruangan PICU," ujar Agung.
Usai dinyatakan meninggal dunia, jasad MAP dibedong perawat jaga. Menurut Agung, RSUD Djoelham menyuruh untuk membawa pulang begitu saja.
"Sungguh tragis yang kami rasakan. Tak menyangka pelayanannya sangat buruk. Dan seharusnya SOP RSUD itukan, jenazah harus dibersihkan terlebih dahulu baru boleh kita bawa pulang. Pihak keluarga tak terima dengan perlakuan RSUD Djoelham dengan playanan yang sangat buruk," ujar Agung.
"Lalu pihak RSUD sempat berkata, bawa saja dulu anaknya pulang nanti kita ketemu. Apa maksudnya, anak saya saja sudah tidak ada lagi," lanjutnya.
Karena kejadian ini, kata Agung, pasien lain pada ruangan yang sama juga panik. "Pasien satu ruangan pada saat itu juga panik ingin bawa anaknya pulang. Karena takut anaknya juga diperlakukan tidak becus oleh pihak rumah sakit. Kami keluarga pasien sangat kecewa dengan pelayanan RSUD Djoelham," ujar Agung.
Terpisah, Pelaksana Tugas Direktur RSUD Djoelham Binjai, dr Romy Ananda Lukman menyebut, belum menjabat saat peristiwa nyawa melayang itu terjadi. "Pada kejadian itu, saya belum Plt Direktur Djoelham," katanya.
Namun demikian, ia menyebut, akan mendalami dan menelusuri informasi tersebut.
"Akan kami telusuri hal tersebut, mohon bersabar dan kerjasamanya u tuk saran yang membangun bagi RSUD Djoelham," tukasnya.
Persoalan pelayanan yang terjadi di RSUD Djoelham Binjai kian ramai. Sebelumnya juga seorang pasien bernama R Br Ketaren (75) meninggal dunia saat sedang melakukan cuci darah.
Anak korban pun merasa tak puas dan ganjal atas kematian ibunya. Pasalnya sebelum ibunya wafat, di mesin cuci darah berbunyi alarm dan mucul tulisan "no water".
Bahkan anak korban menyurati DPRD Binjai dan Inspektorat untuk menindaklanjuti apa yang dialami ibunya sebelum meninggal dunia. (ted/han)
Editor : Redaksi