LABUSEL, Sumutpos.jawapos.com-Di sebuah kamar kos sederhana di sekitar RSUP H. Adam Malik, perjuangan panjang itu terus berlangsung. Armei Karter Tambunan (47), seorang kepala keluarga asal Desa Huta Godang, Kecamatan Sei Kanan, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, tengah menghadapi pertarungan hidup melawan tumor ganas usus—sebuah ujian berat yang datang bersamaan dengan keterbatasan ekonomi.
Perjalanan penyakit Armei sesungguhnya telah dimulai sejak 2023. Namun sebagai pekerja serabutan dan tulang punggung keluarga, ia memilih menahan sakit. Kekhawatiran kehilangan penghasilan membuatnya menunda pengobatan, meski telah memiliki jaminan kesehatan.
Keputusan itu berujung panjang. Memasuki Agustus 2025, kondisinya memburuk drastis. Nyeri perut berkepanjangan memaksanya dirawat di Rantau Prapat sebelum akhirnya dirujuk ke Medan. Di sanalah vonis itu datang: tumor ganas pada usus.
Baca Juga: Razia THM di Sergai, 50 Pengunjung Positif Narkotika Jalani Rehabilitasi
Serangkaian tindakan medis pun dijalani. Operasi pemasangan kantong kolostomi menjadi langkah awal, diikuti delapan kali kemoterapi dan 25 kali radioterapi. Harapan sempat muncul ketika operasi pengangkatan tumor dilakukan. Namun, komplikasi muncul. Infeksi pada bagian dalam menyebabkan luka yang tak kunjung pulih, disertai cairan kehitaman yang keluar setiap hari.
Kini, Armei harus menjalani perawatan intensif dengan kondisi luka yang masih bernanah. Kemoterapi lanjutan terpaksa ditunda hingga lukanya benar-benar sembuh.
Dalam masa pengobatan, Armei tidak sendiri. Istri dan anak-anaknya setia mendampingi, termasuk seorang anak berusia lima tahun serta anak lainnya yang juga tengah kurang sehat. Kehidupan mereka kini terpusat di kamar kos sederhana, jauh dari kampung halaman.
Selama delapan bulan terakhir, biaya pengobatan menjadi beban berat. Meski sebagian ditanggung BPJS, kebutuhan lain seperti pampers, konsumsi harian, hingga perawatan luka harus dipenuhi secara mandiri. Selama ini, keluarga besar bergotong royong membantu. Namun, daya tahan itu mulai menipis.
Armei hanya dua kali pulang ke kampung sejak menjalani pengobatan. Setiap kepulangan justru memicu pendarahan, membuat dokter menyarankan ia tetap berada di Medan demi keselamatan.
Baca Juga: AMANAH Aceh Diluncurkan Kembali, Ruang Kreatif Anak Muda Kian Terbuka
Kini, di tengah kondisi fisik yang terus diuji dan ekonomi yang kian terdesak, Armei dihadapkan pada kenyataan pahit: perjuangan belum selesai, sementara kemampuan untuk bertahan semakin terbatas.
Kisah Armei menjadi potret nyata tentang perjuangan pasien penyakit serius—bukan hanya melawan rasa sakit, tetapi juga menghadapi tekanan ekonomi dan tanggung jawab keluarga. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap angka statistik kesehatan, ada manusia yang berjuang, berharap, dan bertahan.
Saat ini ARMEI KARTER TAMBUNAN butuh bantuan uluran Tangan Para Dermawan No hp. +62 823-6473-2202. NO Rek 3353-0105 5038 535 Bank BRI A/n Lili Rahmayani Tambunan. (mag-5/han)
Editor : Johan Panjaitan