LABUHANBATU, Sumutpos.jawapos.com-Suasana haru menyelimuti Aula Asrama Haji Rantauprapat, Selasa pagi (5/5/2026). Doa lirih dan tatapan penuh harap mengiringi keberangkatan 224 calon jemaah haji (CJH) asal Labuhanbatu menuju Tanah Suci—sebuah perjalanan spiritual yang telah lama dinanti.
Di tengah momen sakral itu, kehadiran Wahyu Endrajaya menjadi sorotan. Bukan sekadar menjalankan fungsi pengamanan, Kapolres tampak membaur dengan jemaah, menghadirkan sentuhan humanis yang memperkuat rasa aman sekaligus kedekatan emosional.
“Kami ingin memastikan para jemaah berangkat dengan rasa aman dan nyaman. Ini bukan hanya soal pengamanan, tetapi juga pelayanan dan kepedulian,” ujarnya.
Baca Juga: SMK Swasta Arina Sidikalang Lepas 128 Siswa, Siap Menatap Dunia Kerja dan Pendidikan Tinggi
Sebanyak 224 jemaah—terdiri dari 95 laki-laki dan 129 perempuan—diberangkatkan bersama enam petugas haji yang akan mendampingi selama pelaksanaan ibadah. Kehadiran unsur Forkopimda, termasuk Maya Hasmita dan Wakil Bupati Jamri, semakin menegaskan kuatnya sinergi lintas sektor dalam mengawal momen penting ini.
Dalam sambutannya, Bupati Maya Hasmita mengingatkan jemaah untuk menjaga kesehatan dan memprioritaskan rukun haji. Ia menekankan bahwa perjalanan ini bukan sekadar fisik, tetapi juga ujian kesabaran dan keikhlasan.
“Jangan memaksakan ibadah sunnah jika kondisi tidak memungkinkan. Yang utama adalah menyempurnakan rukun haji,” pesannya.
Prosesi pelepasan semakin khidmat dengan tradisi tepung tawar dan upah-upah—ritual lokal yang sarat makna, sebagai simbol doa dan restu dari kampung halaman. Sentuhan budaya ini menghadirkan dimensi emosional yang mendalam, mengikat jemaah dengan akar tradisi sebelum menempuh perjalanan panjang.
Di sisi lain, peran Polres Labuhanbatu terlihat konkret. Pengamanan dilakukan secara terbuka dan tertutup, disertai pengaturan lalu lintas yang memastikan keberangkatan berlangsung tertib dan lancar. Tidak ada hambatan berarti—semua berjalan dalam kendali yang rapi dan terukur.
Pendekatan ini mencerminkan transformasi Polri yang kian mengedepankan pelayanan berbasis empati. Pengamanan tidak lagi sekadar menjaga ketertiban, tetapi juga menghadirkan rasa nyaman bagi masyarakat.
Satu per satu jemaah menaiki bus sesuai kelompok, diiringi lambaian tangan keluarga dan doa yang mengalir tanpa henti. Momen itu menjadi potret kebersamaan—antara aparat, pemerintah, dan masyarakat—dalam mengawal langkah menuju ibadah yang penuh makna.(fdh/han)
Editor : Johan Panjaitan