STABAT, Sumutpos.jawapos.com- Kesabaran warga Desa Kwala Air Hitam Hitam, Kabupaten Langkat, tampaknya telah mencapai batas. Jalan penghubung Kecamatan Binjai dan Kecamatan Selesai yang selama puluhan tahun rusak parah akhirnya diblokir ratusan warga, Selasa (19/5/2026).
Aksi yang digelar Aliansi Masjid/Musala Warga Desa Kwala Air Hitam Hitam itu menjadi bentuk protes atas kondisi jalan sepanjang sekitar dua kilometer yang dinilai tak pernah benar-benar mendapat perhatian pemerintah daerah.
Di bawah terik matahari, massa berkumpul di sekitar titi perbatasan Binjai–Selesai. Mereka menutup akses jalan yang selama ini menjadi urat nadi mobilitas masyarakat. Akibatnya, arus lalu lintas lumpuh. Deretan truk pengangkut pasir dan batu dari lokasi galian C yang diduga ilegal terpaksa berhenti. Sementara kendaraan pribadi diminta putar balik oleh massa aksi.
Koordinator aksi, Didik Gunawan, mengatakan pemblokiran dilakukan karena warga kecewa setelah berbagai upaya menyampaikan aspirasi tidak kunjung membuahkan hasil, termasuk melalui rapat dengar pendapat (RDP) bersama DPRD Langkat.
“Sekitar 200 warga turun meminta keadilan. Jalan ini adalah akses utama penghubung antar desa dan antar kecamatan. Tapi kondisinya dibiarkan rusak bertahun-tahun,” kata Didik di lokasi aksi.
Baca Juga: PLN UID Sumut dan Kejati Sumut Perkuat Kolaborasi Hukum, GCG, dan Layanan Kelistrikan Berintegritas
Menurutnya, masyarakat bukan baru kali ini menyuarakan tuntutan perbaikan. Persoalan jalan rusak itu bahkan telah berulang kali dibahas dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), baik di tingkat desa maupun kecamatan. Namun hingga kini, belum ada langkah nyata yang dirasakan warga.
Didik menilai kerusakan jalan semakin parah akibat lalu lalang truk bertonase besar milik sejumlah perusahaan. Ironisnya, kendaraan tersebut disebut kerap melintas dengan muatan berlebih tanpa pengawasan memadai.
“Perusahaan menikmati akses jalan ini, tetapi masyarakat yang menanggung dampaknya. Kami sudah berkali-kali meminta agar mereka ikut bertanggung jawab merawat jalan, namun sampai sekarang tidak ada solusi,” ujarnya.
Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar soal infrastruktur. Jalan rusak telah menghadirkan penderitaan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Didik menyebut sedikitnya tiga nyawa melayang akibat kondisi jalan yang membahayakan. Ribuan anak sekolah pun harus berjibaku dengan jalan berlubang, berlumpur saat hujan, dan berdebu ketika cuaca panas.
“Kalau hujan, jalan berubah jadi kubangan. Kalau panas, debunya mengganggu kesehatan. Anak-anak sekolah setiap hari harus melewati kondisi itu. Ini bukan lagi sekadar ketidaknyamanan, tapi ancaman keselamatan,” tegasnya.
Di tengah tekanan warga, Pemerintah Kabupaten Langkat akhirnya memberikan respons. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Langkat, Wahyudiharto, mengatakan perbaikan jalan tersebut direncanakan masuk dalam program tahun 2026 melalui skema dana Transfer Keuangan Daerah (TKD).
Baca Juga: KAI Divre I Sumut Tutup Perlintasan Liar di Deli Serdang, Target 39 Titik Rampung
“Kami usulkan melalui dana TKD dan direncanakan pengerjaan pada September atau Oktober 2026,” ujarnya.
Namun kepastian realisasi proyek itu masih bergantung pada evaluasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Sebab, penggunaan dana TKD umumnya diperuntukkan bagi penanganan daerah terdampak bencana.
“Nanti akan dievaluasi gubernur terkait usulan tersebut,” katanya singkat.
Bagi warga Desa Kwala Air Hitam Hitam, janji perbaikan bukan lagi sesuatu yang mudah dipercaya. Dua dekade tanpa sentuhan APBD telah meninggalkan jejak kekecewaan mendalam.(ted/han)
Editor : Johan Panjaitan