sumutpos.jawapos.com – Banyak orang menganggap kegagalan berulang sebagai tanda untuk menyerah. Namun tidak demikian dengan Wafiq, seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah.
Melansir Instagram @pandemictalks, Selasa (19/5/2026), setelah lulus kuliah pada 2019, Wafiq sempat mengirim lamaran kerja ke sekitar 50 perusahaan. Hasilnya mengecewakan. Tak satu pun yang menerimanya.
Bagi sebagian orang, pengalaman itu mungkin menjadi pukulan telak. Namun bagi Wafiq, penolakan justru menjadi titik balik yang mengubah arah hidupnya.
Alih-alih terus meratapi nasib, ia memilih untuk menciptakan jalan sendiri.
Bersama sejumlah rekannya, Wafiq mendirikan yayasan sosial bernama Sahabat Pedalaman. Melalui organisasi ini, ia fokus membantu masyarakat di daerah terpencil yang selama ini kesulitan mengakses fasilitas dasar, terutama akibat minimnya infrastruktur jembatan.
Di banyak wilayah pedalaman, sungai yang deras sering menjadi penghalang utama. Anak-anak harus mempertaruhkan nyawa untuk pergi ke sekolah. Petani kesulitan membawa hasil panen ke pasar. Bahkan akses menuju layanan kesehatan pun sering terhambat.
Melihat kondisi tersebut, Wafiq bergerak.
Baca Juga: Sopir Angkot Divonis 7 Bulan Penjara karena Jadi Penadah Emas Hasil Curian Milik Hakim PN Medan
Sebelum genap berusia 30 tahun, ia dan timnya telah berhasil membangun 11 jembatan di berbagai wilayah terpencil Indonesia.
Jembatan-jembatan itu bukan sekadar konstruksi besi dan kayu. Bagi warga, jembatan tersebut adalah harapan baru.
Anak-anak kini bisa berangkat sekolah dengan lebih aman. Warga dapat menjual hasil pertanian dengan lebih mudah. Mobilitas masyarakat pun meningkat signifikan.
Pembangunan dilakukan melalui penggalangan donasi serta gotong royong bersama masyarakat setempat. Dengan begitu, warga tidak hanya menerima manfaat, tetapi juga merasa memiliki dan ikut menjaga jembatan tersebut.
Baca Juga: Ladies Pool League Sumut Seri II Digelar 21-22 Mei 2026
Kisah Wafiq pun menuai banyak pujian di media sosial.
"Ditolak kerja ternyata bukan akhir hidup, malah jadi jalan untuk membantu banyak orang."
"Ini baru definisi sukses yang sesungguhnya."
"Umurnya belum 30 tahun, tapi manfaatnya sudah luar biasa."
"Bukan flexing mobil mewah, tapi flexing karya yang menyelamatkan nyawa."
"Semoga semakin banyak anak muda seperti Wafiq."
Baca Juga: Gerebek Sarang Narkoba di Namorambe, Polresta Deli Serdang Amankan Pelaku dan Paket Sabu
Cerita Wafiq menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Kadang, ketika satu pintu tertutup, justru terbuka jalan yang jauh lebih besar dan lebih bermakna.
Bukan soal seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.(lin)
Editor : Redaksi