MEDAN, SUMUTPOS.CO - Mayat Mudisokhi Laia (31) ditemukan ngambang di aliran Parit Busuk Lk 4, Kel Tangkahan, Kec. Medan Labuhan, Sabtu (20/6) sekitar pukul 21.50 WIB. Kuat dugaan, warga Jl. Tempirai Lestari, Griya Martubung, Kel. Besar, Kec. Medan Labuhan ini adalah korban pembunuhan. Pasalnya, tak jauh dari lokasi ditemukan sebilah belati berlumuran darah. Sekujur tubuh korban juga dipenuhi luka tikaman.
Jasad korban yang mengenakan jaket kulit hitam, baju kaos cokelat dan celana keper hitam itu pertama ditemukan warga yang kebetulan melintas. Warga yang heboh lantas melaporkan kasus itu ke Polsek Medan Labuhan. Satu jam berselang, polisi pun tiba di lokasi dan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Saat mayat korban diangkat dari parit, petugas menemukan sebuah dompet yang berisi KTP atas nama Mudisokhi Laia di saku belakang celana korban. Bukan itu saja, polisi juga mendapati puluhan luka tikaman di tubuh korban. Luka bekas penganiayaan di dagu dan luka bocor bekas hantaman benda tumpul di bagian kepala.
Selain menemukan sebilah pisau, ada juga jam tangan merek Seiko yang juga berlumuran darah di sekitar lokasi. Kapolsek Medan Labuhan, Kompol Boy J Situmorang yang dikonfirmasi mengaku belum bisa memastikan motif kematian korban. "Belum bisa kita pastikan apakah korban ini dibunuh atau tidak, untuk sementara ini kita masih meminta keterangan dari pihak keluarga. Untuk kepentingan penyidik jenazah korban kita bawa ke rumah sakit dr pringadi Medan untuk divisum," ucapnya.
Hingga Minggu (21/6) sore, polisi telah memeriksa lima orang saksi yang terdiri dari istri korban, Fatiniah Hulu (32) dan abang kandung korban, Elizaro Laia (39) serta tiga orang warga yang pertama menemukan jenazahnya.
Berdasarkan keterangan kelima saksi, selama ini korban tidak punya masalah dengan orang lain. "Menurut istri dan abang kandungya,semasahidup korban ini bekerja sebagai tenaga bongkar muat barang di Belawan. Dan korban ini tak pernah punya masalah dengan orang lain,"kata Kompol Boy.
Bukan itu saja, sebelum mayatnya ditemukan, abang kandung korban mengatakan adiknya itu baru saja pulang kerja, namun tidak mengetahui sama siapa adiknya pulang dan apa tujuannya ke Jalan Martubung. "Memang sebelumnya mereka tinggal di Perumahan Griya Martubung, namun sekarang mereka tinggal di rumah susun yang berada di Kayu Putih. Sebelum kejadian adik saya itu baru pulang kerja, entah siapa yang ngajak tiba-tiba adik saya bisa sampai di Griya Martubung," ungkap Elizaro.
Istri korban Fatiniah Hulu yang ditemui si RSUD Pirngadi mengaku tau suaminya tewas dari dari abang iparnya Elizaro. "Aku dihubungi sama abang ipar, dia yang kasih tahu kalau suamiku udah meninggal," katanya sembari menangis.
Ibu tiga anak itu mengatakan, dirinya terakhir ketemu dengan korban pada Senin (15/6) lalu. "Senin yang lalu aku diantarkannya ke rumah orangtuaku di Lorong Sentosa, Belawan.Karena bapakku tinggal sendiri lagi kurang sehat, makanya aku diantarkannya ke sana," kenangnya. Masih kata Fatiniah, pagi sebelum ditemukan tewas, dirinya masih ditelepon oleh korban. Kala itu korban mengaku akan menjemput Fatiniah malam harinya. "Kemarin pagi jam 8, saya ditelepon, dia bilang entar malam abang jemput kalian ya dek, itu lah terakhir kalinya aku mendengar suaranya," lirih Fatiniah.
Di mata Fatiniah korban adalah sosok suami yang baik, rajin bekerja, tidak perokok dan tidak peminum. "Dia orangnya baik, rajin bekerja, merokok gak, minum gak, tapi pernah diajak minum sama kawan-kawannya, itu pun dia mau hanya untuk menghargai ajakan saja," jelasnya. Bahkan selama ini suaminya tak pernah punya musuh, karena sepulang kerja dia selalu berada di rumah. "Dia aja kalau lagi gak kerja di rumah aja, gak mau keluar rumah," ungkapnya. Menurutnya, 5 tahun lalu suaminya punya musuh, tetapi musuh tersebut ada ketika mereka masih tinggal di kampung halamannya.
"Tahun 2010 ada, tapi itu pas kami masih tinggal di Nias, tapi udah baikan kok, gak musuhan lagi," jelasnya. Fatiniah mengatakan, dirinya sangat bingung akan masa depan anaknya yang selama ini biaya pendidikannya dari hasil jerih payah sang suami tercinta. "Gimana lah anakku mau sekolah, sementara ayahnya udah gak ada lagi, aku gak kerja," ujarnya berlinang air mata. (mag-1/mag-3/deo) Editor : Admin-1 Sumut Pos