Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Microsoft dan Meta Pangkas Ribuan Karyawan, Era AI Kian Mendominasi

Johan Panjaitan • Kamis, 30 April 2026 | 12:13 WIB
Dua raksasa teknologi, Microsoft dan Meta melakukan pemangkasan ribuan karyawan sebagai bagian dari strategi efisiensi dan pergeseran fokus bisnis.(chatgpt)
Dua raksasa teknologi, Microsoft dan Meta melakukan pemangkasan ribuan karyawan sebagai bagian dari strategi efisiensi dan pergeseran fokus bisnis.(chatgpt)

NEW YORK, Sumutpos.jawapos.com-Industri teknologi global tengah memasuki fase transformasi paling radikal dalam satu dekade terakhir. Di tengah lonjakan investasi kecerdasan buatan, dua raksasa teknologi—Microsoft dan Meta—memangkas ribuan karyawan sebagai bagian dari strategi efisiensi dan pergeseran fokus bisnis.

Langkah ini bukan sekadar penyesuaian operasional, melainkan sinyal kuat bahwa kecerdasan buatan kini berada di jantung produktivitas industri digital.

Meta mengumumkan pemangkasan sekitar 10 persen tenaga kerjanya, setara hampir 8.000 karyawan, serta menutup sekitar 6.000 posisi yang belum terisi. Sementara Microsoft mengambil pendekatan berbeda dengan menawarkan skema pensiun sukarela bagi sekitar 7 persen karyawannya di Amerika Serikat dari total 125.000 pekerja.

Di balik kebijakan tersebut, terdapat satu benang merah: lonjakan investasi AI yang mencapai ratusan miliar dolar AS.

Chief People Officer Meta, Janelle Gale, menyebut keputusan ini sebagai langkah sulit namun strategis untuk menjaga keseimbangan perusahaan di tengah ekspansi teknologi.

Baca Juga: 951 Pinjol Ilegal Ditutup, Satgas PASTI Kembalikan Rp169 Miliar ke Korban

Meta sendiri mengerek belanja AI hingga 115–135 miliar dolar AS—hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. CEO Mark Zuckerberg secara terbuka mengakui bahwa teknologi AI kini mampu merampingkan proses kerja secara signifikan.

“Proyek yang dulu membutuhkan tim besar, kini bisa diselesaikan oleh individu dengan dukungan AI,” ujarnya.

Fenomena serupa terjadi di Microsoft. CEO Satya Nadella menegaskan bahwa adopsi AI internal telah mendorong lonjakan produktivitas yang nyata. Bahkan, sekitar 30 persen pekerjaan pengkodean di perusahaan tersebut kini telah ditangani oleh sistem AI.

Pernyataan ini diperkuat oleh Chief AI Microsoft, Mustafa Suleyman, yang memprediksi bahwa dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, sebagian besar pekerjaan kerah putih akan terdampak otomatisasi berbasis AI.

Proyeksi yang lebih berani datang dari Zuckerberg. Ia memperkirakan dalam waktu satu tahun, setengah dari proses pengembangan perangkat lunak berpotensi dilakukan oleh AI, bukan manusia.

Baca Juga: Arsenal vs Atletico Madrid: Dua Penalti, Drama VAR, Semifinal Masih Terbuka

Perubahan cepat ini memicu kekhawatiran luas di kalangan pekerja teknologi. Selain ancaman pengurangan tenaga kerja, muncul pula isu baru terkait penggunaan perangkat lunak pemantauan karyawan yang disebut digunakan untuk mendukung pengembangan AI.

Gelombang efisiensi ini tidak berhenti pada dua perusahaan tersebut. Jack Dorsey dilaporkan memangkas hampir separuh tenaga kerja di perusahaannya, sementara Amazon telah memberhentikan sekitar 30.000 karyawan dalam enam bulan terakhir, seiring rencana investasi besar di sektor AI.

Di titik ini, lanskap industri teknologi tengah bergeser dari era ekspansi tenaga kerja menuju era efisiensi berbasis algoritma. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan seberapa cepat dan sejauh mana peran itu akan berubah.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#phk #microsoft #meta #karyawan #ai