SUMUTPOS.CO - Kepala terasa pusing atau lemas mendadak, dimungkinkan Anda mengalami Hipoglikemia ringan. Hipoglikemia adalah kondisi di mana kadar gula darah (glukosa) dalam tubuh turun di bawah normal.
Bayangkan tubuhmu seperti kendaraan yang membutuhkan bensin untuk bergerak. Glukosa adalah bensinnya. Jika tangki bensin hampir kosong, kendaraan mulai tersendat dan tidak berjalan mulus. Dengan mengisi bensin tepat waktu (mengonsumsi makanan bergizi), kendaraan akan berjalan lancar tanpa hambatan.
Maka dari itu, kita akan bahas apa itu hipoglikemia ringan, penyebabnya, gejalanya, dan cara mengatasinya agar aktivitas Anda tetap lancar.
Ketika kadar glukosa menurun, tubuh Anda akan memberikan sinyal melalui berbagai gejala. Meskipun sering dikaitkan dengan penderita diabetes, hipoglikemia ringan juga bisa dialami oleh siapa saja.
Hipoglikemia tidak hanya menyerang penderita diabetes, tetapi juga dapat terjadi pada siapa saja dengan kondisi tertentu.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan hipoglikemia ringan:
1. Tidak Sarapan atau Terlambat Makan: Tubuh kehabisan sumber energi jika jeda waktu makan terlalu lama.
2. Diet Ketat: Asupan kalori dan karbohidrat yang sangat rendah dapat menurunkan kadar glukosa darah.
3. Aktivitas Fisik Berlebihan: Tanpa asupan nutrisi yang cukup, tubuh membakar glukosa lebih cepat daripada yang tersedia.
4. Konsumsi Alkohol Berlebihan: Alkohol dapat mengganggu hati dalam melepaskan glukosa ke darah.
5. Obat-Obatan Tertentu: Beberapa obat dapat menurunkan kadar gula darah, seperti aspirin dosis tinggi atau antibiotik tertentu.
6. Kondisi Medis Lainnya: Kekurangan hormon tertentu yang mengatur glukosa dapat memicu hipoglikemia.
7. Penyakit Hati atau Ginjal: Organ ini berperan dalam metabolisme glukosa, dan gangguannya dapat mempengaruhi kadar gula darah.
Sementara itu, menurut dokter spesialis penyakit dalam endokrin-metabolik-diabetes, dr Hermina Novida SpPD Kemd Finasim mengatakan, hipoglikemia adalah kondisi kadar gula darah di bawah normal yang dapat terjadi bukan hanya pada penderita diabetes, tetapi juga akibat faktor medis dan non-medis lainnya.
“Hipoglikemia tidak hanya dialami oleh penderita diabetes, tetapi juga bisa terjadi akibat aktivitas fisik berlebihan, kurangnya asupan kalori, atau gangguan pada metabolisme insulin,” kata dr Hermina.
Lebih lanjut dr Hermina mengungkapkan, beberapa kondisi medis yang dapat menyebabkan hipoglikemia, seperti aktivitas fisik berlebihan yang meningkatkan sensitivitas insulin dan penggunaan kalori.
Selain itu, dia menyebut bahwa puasa yang terlalu panjang, serta berkurangnya cadangan glikogen pada pasien dengan berat badan rendah atau penyakit liver kronis dapat menjadi faktor pemicu.
“Terdapat pula faktor lain, seperti tumor tertentu yang mempengaruhi kerja insulin, pengaruh obat-obatan, serta kondisi infeksi akut atau kritis yang mengganggu asupan kalori. Selain itu, kadar insulin yang terlalu tinggi akibat insulinoma atau penyakit ginjal kronik juga bisa menjadi penyebab,” jelasnya.
Faktor non-medis juga berperan dalam memicu hipoglikemia, seperti pola makan yang tidak teratur serta komposisi makanan yang tidak seimbang.
Dia mengungkapkan bahwa stres dan kurang istirahat juga dapat menyebabkan seseorang melewatkan makan dan mengalami penurunan nafsu makan sehingga asupan kalori terganggu.
“Ketika asupan kalori terganggu akibat pola makan yang tidak teratur, tubuh tidak memiliki cadangan energi yang cukup, sehingga risiko hipoglikemia semakin meningkat,” ungkap dr Hermina.
Untuk mencegah Hipoglikemia, dia menekankan pentingnya pola makan yang teratur dengan komposisi seimbang.
Selain itu, ia menyarankan untuk selalu memantau detak jantung saat beraktivitas fisik serta memantau kadar gula darah bagi penderita diabetes atau mereka yang memiliki riwayat hipoglikemia.
“Olahraga secara rutin sangat baik, tetapi hindari aktivitas yang terlalu berat. Pastikan tubuh dalam kondisi fit sebelum berolahraga. Selain itu, sebaiknya konsumsi camilan sebelum olahraga untuk mencegah turunnya kadar gula darah secara drastis,” ujarnya.
Dia juga berpesan kepada masyarakat untuk perlu lebih memahami tanda-tanda awal hipoglikemia serta cara mengatasinya.
“Peningkatan edukasi melalui media sosial mengenai gejala awal, pertolongan pertama, serta pencegahan hipoglikemia juga sangat kita perlukan agar masyarakat dapat lebih waspada,” tuturnya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin mengalami hipoglikemia setelah berlari sejauh tujuh kilometer.
Ia mengalami pusing, kehilangan keseimbangan, dan akhirnya terjatuh hingga mengalami luka di kelopak mata. (jpg/han)
Editor : Redaksi