Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Singapura Gencar Perangi Konsumsi Garam Berlebih, Ini Strategi dan Targetnya

Redaksi • Selasa, 17 Februari 2026 | 06:00 WIB
Kasus hipertensi disebabkan konsumsi garam di Singapura yang dilaporkan hampir dua kali lipat sejak tahun 2010. (Ilustrasi freepik)
Kasus hipertensi disebabkan konsumsi garam di Singapura yang dilaporkan hampir dua kali lipat sejak tahun 2010. (Ilustrasi freepik)

sumutpos.jawapos.com - Pemerintah Singapura semakin serius menekan konsumsi garam masyarakat setelah muncul kekhawatiran terhadap dampak kesehatan yang meningkat. Upaya ini disampaikan langsung oleh Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, yang menyoroti tingginya asupan natrium penduduk negara tersebut.

Berdasarkan data dari Ministry of Health Singapore, dilansir dari Instagramm@lamama.tv, Senin (16/2/2026), rata-rata konsumsi natrium masyarakat Singapura mencapai sekitar 3.600 mg per hari. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari batas aman yang direkomendasikan oleh World Health Organization, yaitu sekitar 2.000 mg per hari.

Kondisi ini memicu peningkatan kasus hipertensi di Singapura yang dilaporkan hampir dua kali lipat sejak tahun 2010. Konsumsi garam berlebih diketahui menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit jantung dan stroke.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah Singapura melalui Health Promotion Board menerapkan sejumlah strategi komprehensif.

1. Substitusi Garam
Pemerintah mendorong penggunaan garam rendah natrium dengan kadar sekitar 30 persen lebih rendah. Dalam produk ini, sebagian kandungan natrium digantikan dengan kalium yang dianggap lebih aman bagi kesehatan.

2. Reformulasi Produk Makanan
Produsen makanan dan pelaku usaha kuliner, termasuk penjual makanan hawker, didorong untuk menurunkan kadar garam dalam produknya. Pemerintah menargetkan kandungan natrium makanan dapat kembali ke tingkat seperti pada 2010.

3. Penerapan Label dan Regulasi
Singapura juga memperluas penerapan label peringatan natrium tinggi pada makanan kemasan. Program pelabelan gizi bertujuan membantu masyarakat lebih sadar terhadap kandungan garam dalam produk yang mereka konsumsi.

Pemerintah Singapura juga menyoroti beberapa bahan makanan yang menjadi penyumbang utama asupan natrium, seperti saus, bumbu instan, mie instan, hingga garam dapur. Kampanye edukasi dilakukan untuk mengajak masyarakat mengubah kebiasaan konsumsi sehari-hari secara bertahap.

Ong Ye Kung menegaskan bahwa menjaga kesehatan tidak harus mahal. Menurutnya, mengurangi penggunaan garam dan bumbu tinggi natrium merupakan langkah sederhana yang dapat membawa dampak besar bagi kesehatan masyarakat.

Dalam jangka panjang, pemerintah Singapura menargetkan penurunan konsumsi natrium sebesar 15 persen dalam lima tahun. Target tersebut diharapkan dapat menurunkan rata-rata konsumsi natrium menjadi sekitar 3.100 mg per hari pada 2026.

Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap mampu menekan angka hipertensi nasional, mengurangi beban penyakit jantung dan stroke, serta mendorong perubahan pola makan masyarakat menuju gaya hidup yang lebih sehat.

Upaya Singapura tersebut dinilai menjadi contoh bagaimana kebijakan kesehatan publik dapat dilakukan secara menyeluruh, mulai dari regulasi industri makanan hingga edukasi masyarakat.(lin)

Editor : Redaksi
#singapura #garam #hipertensi