MEDAN, Sumutpos.jawapos.com-Sekretaris Fraksi Partai NasDem DPRD Kota Medan, Saipul Bahri, mengajak warga Kecamatan Medan Labuhan, khususnya Kelurahan Besar, untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong sebagai solusi konkret mengatasi persoalan lingkungan dan banjir yang kerap melanda kawasan tersebut.
Ajakan itu disampaikan Saipul saat menggelar Reses V Masa Sidang II Tahun Sidang 2025–2026 di dua lokasi berbeda, yakni di Jalan Aloha, Lingkungan II, Kelurahan Martubung (Sabtu, 21/2/2026) dan Jalan Pancing III, Lingkungan V, Kelurahan Besar (Minggu, 22/2/2026).
Menurutnya, persoalan banjir di wilayah Medan Utara bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga kepedulian bersama menjaga lingkungan.
“Pasca banjir 27 November 2025 lalu, seluruh anggota DPRD Kota Medan dari Dapil II telah mengusulkan normalisasi sungai dan drainase melalui pokok-pokok pikiran masing-masing. Bahkan, kami sepakat 35 persen APBD 2026 dialokasikan untuk pembangunan di Medan Utara dan sudah dimasukkan dalam RPJMD 2026–2030,” ungkap Saipul.
Dapil II meliputi Kecamatan Medan Marelan, Medan Labuhan, dan Medan Belawan. Saipul menegaskan, seluruh aspirasi masyarakat dalam reses menjadi bahan resmi yang akan diteruskan kepada Pemkot Medan melalui sidang paripurna untuk ditindaklanjuti menjadi program pembangunan.
“Inilah fungsi reses. Kami mendengar langsung keluhan warga agar kebijakan yang lahir benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Kepala UPT Medan Utara Dinas SDABMBK, Kelana Putra, menjelaskan bahwa salah satu hambatan utama normalisasi drainase di Jalan Pancing III adalah posisi saluran yang berada di belakang rumah warga.
“Kami sudah mencoba masuk, namun sulit karena akses terbatas. Diperlukan kesadaran dan gotong royong masyarakat agar normalisasi bisa dilakukan bersama,” jelasnya.
Ia menambahkan, aliran air di kawasan tersebut bermuara ke Parit Belanga Besi sebelum diteruskan ke Parit Belanda. Namun kapasitas dan hambatan teknis membuat air meluap saat hujan deras.
“Kami bahkan tidak mengizinkan Jalan Pancing III dibeton tahun lalu. Jika dibeton tanpa pembenahan drainase, rumah warga bisa semakin tenggelam,” tegasnya.
Warga Soroti Parit Menyempit dan Gorong-gorong Tak Berfungsi
Sejumlah warga menyampaikan keluhan langsung. Sutini, warga Lingkungan V, mengatakan air sudah masuk rumah hanya dalam waktu 30 menit setelah hujan turun.
Yusman menyoroti penyempitan parit di ujung Jalan Pancing III yang kini hanya tersisa 60–80 sentimeter. Ia juga menyebut sebagian saluran telah dicor warga sehingga menyulitkan normalisasi.
Sementara Suherwanto mengaitkan persoalan banjir dengan pembangunan jalan tol sejak 1983. Menurutnya, dari tiga gorong-gorong yang ada, hanya satu yang berfungsi.
“Kalau saluran tidak dibenahi, banjir akan terus berulang,” ujarnya.
Lurah Kelurahan Besar, Gandi Gusri, mengingatkan warga agar tidak membuang sampah ke drainase maupun sungai. Ia menyebut setiap kali banjir terjadi, tumpukan sampah selalu menjadi faktor penyumbat utama.
Selain persoalan banjir, warga juga mempertanyakan akses BPJS dan KIP Kuliah dalam sesi dialog.
Kegiatan reses turut dihadiri Camat Medan Labuhan Khairun Nasyir Tambusai, perwakilan Dinas Dukcapil, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta ratusan warga.
Di tengah kompleksitas persoalan infrastruktur, Saipul Bahri menegaskan satu hal mendasar: pembangunan fisik harus berjalan seiring dengan kesadaran kolektif masyarakat.
“Drainase bisa dinormalisasi, sungai bisa diperlebar. Tapi tanpa gotong royong menjaga lingkungan, banjir akan terus kembali,” pungkasnya.(map/han)
Editor : Johan Panjaitan