JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com- Insiden tabrakan kereta api di Bekasi pada 27 April lalu menjadi pengingat keras akan pentingnya keselamatan di perlintasan sebidang. PT Kereta Api Indonesia (Persero) menegaskan dukungan penuh terhadap investigasi yang tengah dilakukan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sembari menyoroti masih banyaknya perlintasan liar yang berisiko tinggi.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyatakan bahwa hasil investigasi akan menjadi pijakan penting dalam memperkuat sistem keselamatan operasional. Koordinasi intensif terus dilakukan bersama KNKT, Kementerian Perhubungan, serta pemangku kepentingan lainnya guna memastikan proses berjalan transparan dan komprehensif.
“Setiap temuan akan menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan keselamatan operasional,” ujarnya.
Anne menegaskan, karakteristik kereta api yang memiliki massa besar dan kecepatan tinggi membuatnya tidak dapat berhenti secara mendadak. Oleh karena itu, disiplin dan kesadaran bersama dalam menjaga ruang aman di jalur rel menjadi kunci utama pencegahan kecelakaan.
Data KAI mencatat, terdapat 3.888 perlintasan sebidang di Jawa dan Sumatra. Dari jumlah tersebut, 2.799 merupakan perlintasan resmi, sementara 1.089 lainnya adalah perlintasan liar. Lebih jauh, 2.112 titik telah dijaga, namun masih ada 1.776 perlintasan tanpa penjagaan.
Baca Juga: Peringati Mayday 2026, Ribuan Buruh akan Aksi di Kantor Gubernur dan DPRD Sumut
“Angka ini menunjukkan masih banyak titik yang membutuhkan perhatian serius,” tegasnya.
Sepanjang triwulan pertama 2026, KAI bersama pemerintah pusat dan daerah telah menangani 564 perlintasan, baik melalui penutupan maupun peningkatan menjadi tidak sebidang, seperti pembangunan flyover dan underpass. Upaya ini dibarengi dengan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat agar disiplin saat melintasi rel.
Barang Penumpang Mulai Dikembalikan
Di tengah proses investigasi, pemulihan pascakecelakaan juga terus dilakukan. Hingga 30 April pukul 08.30 WIB, tercatat 85 barang milik penumpang KRL telah ditemukan. Dari jumlah tersebut, 38 barang telah dikembalikan, sementara 47 lainnya masih dalam proses penyerahan.
Barang-barang tersebut diamankan di Stasiun Bekasi Timur. Penumpang yang merasa kehilangan diimbau segera menghubungi layanan lost and found untuk proses verifikasi dan pengambilan.
Permohonan Maaf dan Fokus pada Empati
Sorotan publik juga tertuju pada pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, terkait usulan pemindahan gerbong perempuan. Menyadari pernyataannya menuai respons negatif, Arifah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Baca Juga: Tidak hanya Lelah dan Dehidrasi, Suhu Panas juga Mempercepat Penuaan
“Saya memohon maaf kepada masyarakat, khususnya korban dan keluarga yang terdampak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah penanganan korban, keselamatan penumpang, serta empati bagi keluarga yang berduka.
Santunan dan Dukungan Pemulihan
Pemerintah juga bergerak cepat memberikan bantuan kepada keluarga korban. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyerahkan santunan langsung kepada keluarga almarhumah Nuryati (62), salah satu korban dalam insiden tersebut.
Selain bantuan tunai dan kebutuhan dasar, Kementerian Sosial juga menyiapkan program pemberdayaan ekonomi untuk membantu keluarga korban bangkit secara berkelanjutan.
“Tidak hanya belasungkawa, kami juga melakukan asesmen agar keluarga bisa pulih secara sosial dan ekonomi,” ujar Saifullah.
Pemkot Bekasi Siapkan Sistem Alarm
Sebagai langkah preventif, Pemerintah Kota Bekasi berencana memasang sistem alarm pendeteksi kereta di sejumlah perlintasan rawan, khususnya di kawasan Bekasi Timur.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menjelaskan bahwa sistem ini akan memberikan peringatan suara ketika kereta berada dalam radius sekitar 500 meter dari perlintasan. Tujuannya, memberi waktu bagi pengguna jalan untuk berhenti dan menghindari potensi kecelakaan.
“Ini sebagai peringatan dini agar masyarakat tidak memaksakan diri melintas,” ujarnya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan