TEHERAN, Sumutpos.jawapos.com– Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas di kawasan Teluk Oman dan Selat Hormuz. Kedua negara saling menuduh melakukan provokasi militer setelah serangkaian insiden terhadap kapal tanker terjadi hanya dalam hitungan jam.
Situasi itu memperlihatkan betapa rapuhnya upaya gencatan senjata sementara yang sebelumnya sempat meredakan ketegangan di kawasan Teluk.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menyita kapal tanker minyak Ocean Koi dalam operasi khusus pada Jumat (8/5). Menurut Teheran, kapal tersebut dianggap mengganggu kepentingan ekspor minyak Iran.
“Angkatan laut Iran telah menyita Ocean Koi karena kapal tersebut berupaya mengganggu ekspor minyak dan kepentingan bangsa,” ujar juru bicara IRGC seperti dikutip Al Jazeera.
Baca Juga: City-Arsenal dalam Kendali Palace, Bisa Jadi Penentu Juara Premier League
Rekaman video yang memperlihatkan pasukan Iran menaiki kapal tanker itu langsung beredar luas di media sosial. Berdasarkan data pelayaran MarineTraffic, Ocean Koi tercatat berbendera Barbados.
Namun, Washington bergerak dengan narasi berbeda.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pihaknya telah melumpuhkan dua kapal tanker berbendera Iran yang disebut hendak memasuki pelabuhan Iran di Teluk Oman.
Komandan CENTCOM Bradley Cooper menegaskan operasi tersebut merupakan bagian dari pengawasan ketat terhadap aktivitas maritim Iran.
“Pasukan AS di Timur Tengah tetap berkomitmen untuk sepenuhnya menegakkan blokade terhadap kapal yang masuk atau keluar dari Iran,” katanya.
Hormuz Kembali Jadi Titik Panas
Bentrokan terbaru terjadi setelah kedua negara saling tuding terkait insiden di Selat Hormuz—jalur pelayaran paling strategis di dunia yang menjadi urat nadi distribusi minyak global.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Sebut Iran Punya Strategi Baru Hadapi AS
Presiden Donald Trump menuduh Iran menyerang tiga kapal perusak Angkatan Laut AS di kawasan tersebut. Namun, militer Iran justru menilai Washington lebih dahulu melanggar kesepakatan jeda konflik dengan menyerang kapal tanker minyak Iran.
Dalam gaya khasnya, Trump merespons ketegangan itu dengan komentar singkat yang memancing perhatian.
“Itu hanya sentuhan kasih sayang,” ujar Trump ketika ditanya soal bentrokan di Selat Hormuz.
Ia juga membantah bahwa Amerika telah melanggar kesepakatan penghentian sementara pertempuran.
Pernyataan saling bertolak belakang itu memperlihatkan satu hal: baik Teheran maupun Washington sedang memainkan perang narasi di tengah meningkatnya tekanan geopolitik kawasan.
Iran Siapkan Aturan Baru di Selat Hormuz
Di tengah situasi yang semakin panas, Iran disebut tengah menyiapkan kebijakan baru untuk memperkuat kendalinya atas Selat Hormuz.
Teheran berencana membentuk Otoritas Selat Teluk Persia, lembaga yang akan mengatur seluruh lalu lintas kapal di jalur strategis tersebut. Dalam rancangan aturan baru itu, setiap kapal yang hendak melintas wajib meminta izin kepada otoritas Iran, menyerahkan data asal negara, jenis muatan, tujuan akhir, hingga membayar biaya tol.
Langkah tersebut dinilai bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan pesan politik dan strategis kepada dunia.
Baca Juga: Isteri Dede Sunandar Mengaku Sudah Diselingkuhi Sejak Kelahiran Anak Pertama
Analis pertahanan Alex Alfirraz Scheers menilai IRGC sedang berupaya memperlihatkan pengaruh dan kemampuan kontrolnya atas kawasan Teluk.
“IRGC mencoba memproyeksikan kekuatan dan menunjukkan mereka memiliki pengaruh politik di kawasan,” ujarnya.
Jika kebijakan itu benar-benar diterapkan, Selat Hormuz berpotensi kembali menjadi episentrum ketegangan global. Sebab, lebih dari seperlima distribusi minyak dunia melintasi jalur sempit tersebut setiap harinya.
Dan ketika kapal tanker mulai berubah menjadi simbol kekuatan politik, dunia tahu satu hal: krisis di Teluk belum benar-benar reda.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan