BEIJING, Sumutpos.jawapos.com – Rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Tiongkok pada akhir bulan ini berada di persimpangan. Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan di Selat Hormuz, membuat agenda diplomatik tersebut berpotensi ditunda.
Trump mengisyaratkan bahwa situasi global yang belum stabil menjadi pertimbangan utama. Terlebih, Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi dunia—kembali menjadi sorotan akibat gangguan yang memengaruhi pasokan minyak global.
Baca Juga: Hidup-Mati City di Etihad! Madrid Siap Habisi Harapan Pep
Dalam pernyataannya, Trump sempat berharap Beijing dapat memainkan peran dalam membuka kembali akses Selat Hormuz, mengingat hubungan erat antara Tiongkok dan Iran.
“Dua minggu menuju pertemuan itu adalah waktu yang lama. Kami mungkin akan menunda,” ujar Trump, mengisyaratkan ketidakpastian jadwal pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping.
Ia juga menyinggung ketergantungan energi Beijing terhadap jalur tersebut. Menurutnya, sekitar 90 persen pasokan minyak Tiongkok melewati Selat Hormuz, sehingga respons Beijing dinilai lebih didorong oleh kepentingan strategisnya sendiri.
Trump bahkan mendesak negara-negara di Eropa dan Asia untuk turut mengambil peran aktif dalam menjaga keamanan jalur energi global.
“Saya menuntut agar negara-negara ini datang dan melindungi wilayah mereka sendiri,” tegasnya.
Di tengah dinamika tersebut, komunikasi diplomatik tetap berjalan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bertemu dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus pejabat ekonomi He Lifeng di Paris, Prancis, guna membahas persiapan pertemuan kedua pemimpin negara.
Namun, analis menilai kecil kemungkinan Beijing akan memenuhi permintaan Washington untuk mengerahkan kekuatan militer membuka kembali Selat Hormuz. Peneliti senior Council on Foreign Relations, Edward Fishman, bahkan menilai wacana penundaan kunjungan lebih bersifat taktis ketimbang keputusan final.
Baca Juga: Chelsea di Ujung Tanduk! Rosenior Pasang 'Tembok Besi'Hadang PSG
Di sisi lain, ia menyoroti posisi strategis Tiongkok yang kian menguat di tengah krisis energi global. Investasi besar dalam energi bersih—mulai dari panel surya, baterai hingga kendaraan listrik—menempatkan Beijing dalam posisi tawar yang semakin dominan.
“Peralihan global ke energi alternatif justru bisa menguntungkan Tiongkok dalam jangka panjang,” ujarnya.
Dengan situasi geopolitik yang terus bergejolak, rencana pertemuan dua kekuatan besar dunia kini tak hanya menjadi agenda diplomatik biasa, tetapi juga bagian dari tarik-menarik kepentingan energi, keamanan, dan pengaruh global.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan