TEHERAN, Sumutpos.jawapos.com-Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat. Kedua negara sama-sama mengumumkan rencana latihan militer di kawasan strategis Timur Tengah, menandai babak baru saling unjuk kekuatan di tengah rapuhnya stabilitas regional.
Mengutip Anadolu, Iran mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang menyatakan adanya aktivitas militer di wilayah udara sepanjang Selat Hormuz. Notifikasi tersebut berlaku mulai Selasa (27/1) hingga Kamis (29/1), disertai larangan terbang di zona tertentu karena dinilai berbahaya bagi penerbangan sipil.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital dunia, tempat sekitar seperlima pasokan minyak global melintas setiap hari. Setiap peningkatan aktivitas militer di kawasan ini kerap memicu kekhawatiran internasional.
Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengumumkan latihan militer multi-hari di kawasan Timur Tengah. Latihan ini melibatkan kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah berada di wilayah tersebut dan dinilai semakin mengerek tensi kawasan.
Komando Pusat Angkatan Udara AS (Air Forces Central Command/AFCENT) menyatakan latihan tersebut bertujuan menguji kesiapan tempur pasukan udara. Seperti dikutip dari The Guardian, AFCENT akan mengasah kemampuan mengerahkan, menyebarkan, dan mempertahankan kekuatan tempur dalam skenario operasi nyata.
Latihan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan penyebaran aset dan personel, meningkatkan kemitraan regional, serta menyiapkan opsi respons militer yang fleksibel. Namun, pihak AS tidak merinci jadwal, lokasi spesifik, maupun jenis aset tempur yang dikerahkan.
Tekanan Militer dan Retorika Politik
Presiden Amerika Serikat Donald TRUMP secara terbuka menyebut pengerahan militer tersebut sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran.
“Kami memiliki armada besar di dekat Iran,” ujar Trump.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Washington masih membuka peluang dialog diplomatik. “Mungkin kami tidak perlu menggunakannya,” imbuhnya, merujuk pada kekuatan militer AS.
Pernyataan tersebut segera direspons Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, seperti dikutip AFP, menegaskan bahwa diplomasi yang disertai ancaman militer tidak akan efektif.
“Diplomasi melalui tekanan militer tidak berguna,” tegas Araghchi.
Baca Juga: Aturan Baru KPK: Pejabat Wajib Laporkan Hadiah di Atas Rp 1,5 Juta
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir tidak ada komunikasi dengan Steve Witkoff, negosiator AS untuk isu Timur Tengah. “Kami tidak sedang mengusahakan negosiasi,” katanya.
Iran–Saudi Perkuat Komitmen Stabilitas
Di tengah meningkatnya ketegangan Iran-AS, Presiden Iran Masoud Pezkhchik melakukan percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Kontak ini dilakukan setelah kehadiran USS Abraham Lincoln di kawasan Timur Tengah.
Meski kedua negara memiliki sejarah rivalitas panjang, hubungan Teheran dan Riyadh belakangan menunjukkan perbaikan signifikan. Mengutip keterangan Kantor Kepresidenan Iran, MBS menyambut baik dialog tersebut dan menegaskan komitmen Arab Saudi terhadap stabilitas, keamanan, dan pembangunan regional.
Kantor berita Saudi, SPA, melaporkan bahwa MBS juga menegaskan Riyadh tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun teritorialnya digunakan untuk aksi militer terhadap Iran.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal penting di tengah eskalasi geopolitik, sekaligus penegasan upaya negara-negara kawasan untuk mencegah konflik terbuka yang lebih luas.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan