MEDAN, SUMUT POS- Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Utara terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi penyebaran penyakit Hantavirus menyusul terbitnya surat edaran dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus terkonfirmasi di Sumatera Utara, langkah antisipasi terus diperkuat guna mencegah munculnya penularan di tengah masyarakat.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Hamid Rizal menegaskan bahwa pemerintah daerah saat ini terus melakukan pemantauan perkembangan situasi terkait Hantavirus, sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dini.
Baca Juga: DAIKIN Raih Paritrana Award 2025, Bukti Komitmen Perlindungan Tenaga Kerja
“Untuk di Sumatera Utara sendiri sampai saat ini belum ada kasus Hantavirus yang terkonfirmasi. Namun demikian, sesuai surat edaran dari Kementerian Kesehatan, kami tetap meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan di seluruh fasilitas kesehatan maupun jajaran terkait,” ujar Hamid Rizal saat memberikan keterangannya kepada Sumut Pos, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, langkah kesiapsiagaan dilakukan melalui pemantauan situasi secara berkala, penguatan deteksi dini, hingga respon cepat apabila ditemukan gejala atau indikasi yang mengarah pada infeksi Hantavirus.
Menurutnya, seluruh fasilitas kesehatan diminta aktif melakukan pengawasan terhadap kemungkinan munculnya kasus suspek. Selain itu, Dinas Kesehatan juga memperkuat sistem verifikasi terhadap setiap laporan yang diterima dengan melibatkan institusi terkait, termasuk koordinasi bersama Kementerian Kesehatan.
“Kami juga menekankan pentingnya pencatatan dan pelaporan seluruh kasus penyakit menular dilakukan secara rapi dan cepat, khususnya yang berkaitan dengan dugaan Hantavirus. Ini penting agar penanganan bisa dilakukan lebih awal apabila ditemukan indikasi,” katanya.
Hamid menambahkan, pemerintah turut melakukan penilaian risiko terhadap kondisi lingkungan yang berpotensi menjadi sumber penularan penyakit. Upaya promosi kesehatan juga terus digencarkan melalui penyuluhan kepada masyarakat bersama lintas sektor.
Ia menerangkan bahwa Hantavirus merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui paparan reservoir seperti tikus dan celurut, termasuk kotoran maupun lingkungan yang terkontaminasi. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kebersihan lingkungan serta menerapkan perilaku hidup sehat.
“Edukasi kepada masyarakat terus kami lakukan agar masyarakat bisa berperan aktif dalam pencegahan. Langkah paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya,” ucapnya.
Dinas Kesehatan Sumut juga mengimbau masyarakat untuk rutin menerapkan protokol kesehatan dasar seperti mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga daya tahan tubuh, serta menggunakan masker apabila mengalami gejala sakit.
Selain itu, masyarakat diminta menutup lubang-lubang di dalam maupun luar rumah untuk mencegah tikus masuk ke area tempat tinggal. Kebersihan rumah dan tempat kerja juga harus dijaga, terutama dengan metode pembersihan pel basah atau wet cleaning apabila ditemukan jejak keberadaan tikus.
“Penyimpanan makanan dan minuman juga harus diperhatikan. Gunakan wadah tertutup atau tudung saji agar tidak terkontaminasi,” kata Hamid.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati saat melakukan aktivitas luar ruangan seperti pendakian dan berkemah, terutama di lokasi yang berpotensi menjadi habitat tikus atau hewan reservoir lainnya.
Apabila mengalami gejala yang mengarah pada suspek Hantavirus, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Sementara itu, bagi pelaku perjalanan luar negeri, Dinas Kesehatan Sumut mengimbau agar tetap mematuhi aturan dan imbauan kesehatan di negara tujuan guna meminimalisasi risiko penularan penyakit.
“Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak panik, tetapi tetap waspada. Pencegahan menjadi langkah paling penting agar penyakit ini tidak berkembang dan menimbulkan risiko kesehatan yang lebih luas,” pungkas Hamid Rizal. (san/ram)
Editor : Juli Rambe